Radar Berita Indonesia – Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. H. Fauzi Bahar, M.Si., Datuk Sati, dijadwalkan menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional bertajuk “Memperingati 400 Tahun Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari” yang akan digelar di Gedung Balai Jakarta pada 26 Agustus 2026.
Seminar internasional tersebut mengangkat tema “Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam Nusantara”. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus menggali warisan intelektual, keislaman, pendidikan, dan kebudayaan yang ditinggalkan Syekh Yusuf Al-Makassari.
Prof. Fauzi Bahar membenarkan dirinya telah diminta menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
“Benar, saya diminta sebagai narasumber dalam seminar internasional tersebut,” ujar Prof. Fauzi Bahar ketika dihubungi.
Dalam seminar tersebut, Prof. Fauzi Bahar akan tampil bersama sejumlah akademisi dan tokoh intelektual, yakni Prof. Erwiza Erman, MA, Ph.D.; Prof. HJ. Yusuf Liu Baojun; Prof. Dr. Ismunandar, Ph.D.; serta Dr. Roni Tabroni, M.A.
Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memperkaya diskusi mengenai sejarah, kebudayaan, perdagangan, pertukaran ilmu pengetahuan, serta jaringan intelektual yang berkembang melalui Jalur Sutra Maritim dan berkontribusi terhadap pembentukan peradaban Islam di Nusantara.
Selain para narasumber, sejumlah tokoh nasional juga dijadwalkan menjadi pembicara utama. Di antaranya Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia; Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Menteri Kebudayaan; Prof. Dr. K.H. Nazaruddin Umar, M.A., Menteri Agama; serta Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D., Rektor Universitas YARSI.
Seminar tersebut difasilitasi oleh Perkumpulan Rangkayo Minang Indonesia bersama Ibu Mufida. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan akademisi, tokoh agama, budayawan, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mengkaji kembali nilai-nilai sejarah dan peradaban Islam Nusantara.
Prof. Fauzi Bahar mengatakan, momentum 400 tahun warisan Syekh Yusuf Al-Makassari hendaknya tidak hanya dijadikan kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk melahirkan pemikiran dan langkah nyata dalam menjaga serta mengembangkan warisan sejarah dan kebudayaan Nusantara.
Menurutnya, penguatan kolaborasi antara akademisi, tokoh agama, budayawan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat penting dilakukan agar warisan intelektual Syekh Yusuf Al-Makassari tetap hidup, dipelajari, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.
“Seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi forum untuk mengenang warisan Syekh Yusuf Al-Makassari, tetapi juga melahirkan gagasan dan langkah nyata untuk melestarikan nilai-nilai sejarah, keislaman, pendidikan, dan kebudayaan Nusantara,” ujarnya.
Sementara itu, Humas Perkumpulan Rangkayo Minang Indonesia, Sunarti Aisyah, mengimbau masyarakat yang berminat mengikuti seminar tersebut agar segera melakukan pendaftaran.
“Karena kuota terbatas, diharapkan peserta segera mendaftar,” ujar Sunarti Aisyah.
Panitia telah menyediakan formulir pendaftaran bagi calon peserta. Selain itu, panitia juga menyiapkan doorprize berupa hadiah umrah bagi peserta seminar.
Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap dapat lahir berbagai gagasan, rekomendasi, serta jejaring kerja sama yang mendorong pelestarian dan pengembangan warisan sejarah, keislaman, serta kebudayaan Syekh Yusuf Al-Makassari, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sumber: Mdtk/Ade.


