Radar Berita Indonesia – Washington, D.C. | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan global setelah mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social, pada Selasa (7/4/2026), menjelang tenggat waktu yang ia tetapkan kepada Iran untuk membuka kembali selat tersebut.
Dalam unggahannya, Trump memperingatkan konsekuensi besar jika Iran tidak segera mengambil tindakan.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali,” tulis Trump, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Meski demikian, Donald Trump juga menyatakan bahwa dirinya tidak menginginkan skenario terburuk tersebut terjadi. Ia bahkan menyinggung kemungkinan perubahan rezim di Iran sebagai solusi jangka panjang.
“Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi. Namun, dengan perubahan rezim yang lengkap dan total, mungkin sesuatu yang revolusioner dapat terjadi,” ujarnya.
Dalam pernyataan lain, Donald Trump menyebut situasi ini sebagai salah satu momen paling penting dalam sejarah dunia modern.
Ketegangan ini bermula setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel pada 28 Februari 2026.
Penutupan tersebut berdampak besar terhadap distribusi energi global, mengingat selat ini merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Donald Trump telah memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Amerika Serikat mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran.
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tegas Trump dalam unggahan sebelumnya.
Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pemerintah Iran terkait ultimatum tersebut. Sementara itu, upaya Presiden Amerika untuk menggalang dukungan dari sekutu-sekutu Amerika Serikat juga belum menunjukkan hasil signifikan.
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas, terutama karena Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam stabilitas ekonomi global.


