Radar Berita Indonesia, Teheran – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika negara tersebut tidak memenuhi tuntutan Washington.
Ancaman tersebut memicu reaksi dari otoritas dan masyarakat Iran. Pemerintah Iran melalui Kementerian Olahraga dan Pemuda menyerukan aksi simbolis berupa “rantai manusia” untuk melindungi pembangkit listrik utama di berbagai wilayah.
Aksi ini melibatkan kaum muda Iran, termasuk mahasiswa, atlet, seniman, serta organisasi kepemudaan. Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, menyatakan bahwa inisiatif tersebut datang langsung dari kalangan pemuda.
Aksi mulai digelar pada Selasa (7/4/2026) siang di sejumlah lokasi pembangkit listrik di Iran. Sementara itu, tenggat waktu yang diberikan Trump jatuh pada Selasa malam pukul 20.00 waktu AS atau Rabu (8/4) dini hari sekitar pukul 03.30 waktu Iran.
Trump menuntut Iran menyetujui gencatan senjata, menghentikan program senjata nuklir, serta membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup akibat konflik. Jika tuntutan tidak dipenuhi, AS mengancam akan menyerang fasilitas vital Iran.
Bagaimana respons Iran dan warganya?
Pemerintah Iran menyebut aksi “rantai manusia” sebagai simbol komitmen generasi muda dalam melindungi negara dan masa depan mereka. Namun, sejumlah pejabat Iran juga mengecam keras pernyataan Trump, menyebutnya sebagai bentuk keputusasaan.
Di sisi lain, warga sipil Iran dilaporkan mulai merasakan kecemasan. Sejumlah warga menimbun bahan pokok dan air karena khawatir terhadap dampak serangan terhadap infrastruktur energi. Kekhawatiran juga muncul terkait potensi krisis listrik, air, dan ekonomi.
Beberapa warga yang diwawancarai media internasional mengaku tidak mampu berbuat banyak menghadapi situasi tersebut, serta khawatir perang akan memperburuk kondisi kehidupan sehari-hari.


