Radar Berita Indonesia | Dengan gegap gempita, Pemerintah Kota Padang di bawah kepemimpinan Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir meluncurkan Program Unggulan Padang Siaga Pengamanan Kota (Sigap).
Sebanyak 325 personel keamanan Dubalang Kota dikukuhkan dalam seremoni Grand Launching di Palanta Rumah Dinas Wali Kota, Rabu (12/3/2025). Program ini dijanjikan sebagai solusi konkret menghadapi maraknya tawuran dan aksi kriminal di Kota Padang.
Namun, belum genap sebulan pasca peluncuran, realitas di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Namun, efektivitas program ini mulai dipertanyakan. Dalam sebuah unggahan media sosial, Anggota DPRD Kota Padang, Muhammad Khalidi Al Khair yang akrab disapa Khalil Chaniago menyuarakan keresahan warga yang menganggap bahwa keamanan di malam hari semakin memburuk.
Ia mengungkapkan kasus terbaru seorang anak RT di Sungai Sapih menjadi korban begal saat pulang menonton pertandingan bola.
Kami tadi pagi menjenguk korban. Ini bukti bahwa Padang tidak aman di malam hari. Pemerintah harus serius menyikapi persoalan tawuran dan kenakalan remaja yang sudah memakan banyak korban.
Khalidi juga mendesak aparat kepolisian, khususnya Polsek Kuranji, agar segera menangkap pelaku dan mengusut tuntas insiden tersebut, tulisannya akun Facebook Khalil Canuagoo di kutip hari Jum’at 18 April 2025.
Sementara itu, komentar warganet pun bermunculan mempertanyakan efektivitas Dubalang Kota. “Dimana keberadaan Dubalang Kota saat begal terjadi?” tulis seorang netizen dalam kolom komentar.
Selian itu, sorotan ini menambah deretan kritik terhadap implementasi program keamanan berbasis masyarakat yang diluncurkan Pemko Padang.
Meski telah dikukuhkan secara resmi, belum tampak kehadiran nyata pasukan Dubalang Kota di lokasi-lokasi rawan kriminalitas.
Padahal, tujuan awal program ini adalah memberikan rasa aman secara nyata dan bukan sekadar simbol seremonial.
Jeritan Hati Masyarakat: “Dubalang Kota Jangan Hanya Seremonial!”
Di tengah meruaknya kasus kriminal seperti begal di Sungai Sapih, masyarakat semakin lantang menyuarakan keresahan mereka.
Kolom komentar di media sosial dipenuhi suara-suara kecewa dan frustrasi terhadap implementasi Program Dubalang Kota.
Salah satu netizen menulis:
“Dubalang Kota jangan hanya seremonial belaka saja. Sudah ada korban berjatuhan akibat begal di Sungai Sapih, di mana pasukan pengamanan itu ketika warga butuh perlindungan?”
Kritik ini menjadi sinyal kuat bahwa warga tak butuh simbolisme, melainkan aksi nyata. Mereka merasa ditinggalkan oleh sistem keamanan formal yang seharusnya hadir di saat genting.
Keamanan Butuh Kehadiran, Bukan Janji
Kasus begal di Sungai Sapih menjadi alarm bahwa program keamanan Pemko Padang perlu evaluasi serius. Program seperti Dubalang Kota akan kehilangan makna bila hanya hidup dalam seremoni, bukan dalam keseharian warga.
Menanggapi meningkatnya keresahan, pihak Pemerintah Kota Padang juga mengimbau kepada seluruh orang tua serta ninik mamak (tokoh adat) agar lebih memperhatikan anak kemenakan mereka.
Pemerintah meminta agar generasi muda tidak keluar larut malam tanpa keperluan yang jelas, demi menghindari potensi menjadi korban maupun pelaku tindak kejahatan.
Namun, bagi sebagian warga, imbauan ini dirasa belum cukup. Jeritan dari Sungai Sapih tetap menggema sebagai tuntutan akan kehadiran nyata pemerintah dalam menjamin rasa aman.
“Kami sudah waspada. Tapi bagaimana kalau pelaku kejahatan yang berkeliaran?” ujar salah satu warga Sungai Sapih.
“Kalau keamanan dibebankan ke orang tua, lalu Dubalang Kota tugasnya apa?”
Hari ini, warga kembali bertanya: Dubalang Kota, kamu di mana?


