Radar Berita Indonesia – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menerima kunjungan anggota Parlemen Malaysia, Young Syefura Othman atau yang akrab disapa Rara, pada Rabu (10/12/2025) di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sekaligus menjadi momen diplomasi santai yang menarik perhatian publik lintas negara.
Kehadiran Rara disambut langsung oleh Dedi Mulyadi dan diabadikan melalui unggahan video di akun media sosial resmi sang gubernur.
Dalam video tersebut, Dedi Mulyadi terlihat bercanda sembari menyampaikan rencananya untuk kembali berkunjung ke Malaysia.
Ia bahkan berseloroh akan kembali “memboyong” Rara ke Jawa Barat, disambut senyum dan tawa ringan yang mencairkan suasana pertemuan.
Dalam jamuan tersebut, Dedi Mulyadi menyuguhkan hidangan khas Jawa Barat seperti sate dan bakso, yang dinikmati langsung oleh tamunya.
“Tadi sudah dikasih makan apa sama Aa?” tanya Dedi Mulyadi dalam video. “Bakso sama sate,” jawab Rara dengan antusias dikutip Minggu (14/12/2025).
Momen sederhana ini semakin memperlihatkan kehangatan hubungan personal antara tuan rumah dan tamu dari negeri jiran.
Tak lama setelah video tersebut diunggah, kolom komentar media sosial Dedi Mulyadi langsung dipenuhi ribuan respons warganet.
Sejumlah netizen menjodoh-jodohkan keduanya, sementara lainnya menilai pertemuan tersebut mencerminkan hubungan baik antara pemimpin daerah Indonesia dan perwakilan parlemen Malaysia.
Candaan, dukungan, hingga spekulasi bernada positif membuat pertemuan ini semakin menjadi sorotan publik.
Pernyataan Dedi Mulyadi yang mengaku “jatuh hati” kepada Parlemen Malaysia tidak berhenti sebagai ungkapan kekaguman personal.
Di balik pernyataan tersebut, tersirat pesan politik yang kuat, bahkan dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap praktik legislatif dan kualitas demokrasi di Indonesia.
Dedi Mulyadi dikenal sebagai pemimpin daerah yang vokal dan kerap menyampaikan kritik terbuka terhadap sistem politik yang dianggapnya jauh dari nilai ideal demokrasi.
Kekagumannya terhadap Parlemen Malaysia disebut berangkat dari pengamatannya terhadap disiplin kerja, kualitas perdebatan, serta fungsi pengawasan yang dinilai berjalan lebih substantif dan tidak sekadar formalitas.
Dalam perspektif politik, pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan seorang kepala daerah terhadap relasi antara eksekutif dan legislatif yang kerap terjebak dalam kepentingan pragmatis.
Ia seolah ingin menegaskan bahwa parlemen seharusnya menjadi ruang adu gagasan dan pengawasan kebijakan, bukan arena transaksi kekuasaan atau sekadar kepanjangan tangan elite politik.
Ketika seorang gubernur secara terbuka mengagumi sistem parlemen negara lain, publik dapat menafsirkan hal itu sebagai ajakan refleksi bagi parlemen nasional dan daerah.
Bukan untuk merendahkan, melainkan sebagai pengingat bahwa demokrasi tidak hanya soal prosedur dan jabatan, tetapi juga soal etika, integritas, dan keberpihakan nyata kepada rakyat.


