Radar Berita Indonesia, Padang – Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menandai babak baru eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Operasi serangan tersebut memicu beragam spekulasi dan analisis, tidak hanya terkait isu program nuklir Iran, tetapi juga arah baru konstelasi geopolitik regional dan global.
Pengamat Timur Tengah Universitas Andalas (UNAND), Maryam Jamilah, menilai serangan itu tidak dapat dipahami semata sebagai respons spontan atas ancaman nuklir. Menurutnya, operasi militer tersebut merupakan bagian dari strategi yang telah lama dipersiapkan.
“Jika melihat pola kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Israel, ini tampak sebagai rencana jangka panjang. Sejak 2025, peningkatan pengerahan militer AS di sekitar Selat Hormuz sudah menunjukkan bahwa opsi militer terhadap Iran semakin dipertimbangkan secara serius,” ujar Maryam, dosen Hubungan Internasional FISIP UNAND, di Padang, Sabtu (1/3/2026).
Kegagalan Diplomasi dan Pergeseran Strategi
Maryam menjelaskan, kegagalan perundingan terkait program nuklir Iran menjadi titik balik penting. Kondisi tersebut, menurutnya, memberi legitimasi bagi Washington dan Tel Aviv untuk beralih dari jalur diplomasi menuju opsi militer.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta narasi media Barat menekankan bahwa penghentian program nuklir Iran menjadi tujuan utama operasi tersebut karena dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Namun demikian, Maryam menilai motif resmi sering kali berbeda dengan kepentingan strategis yang lebih mendalam.
“Israel memang memiliki tradisi doktrin serangan pencegahan. Tetapi operasi kali ini tidak sepenuhnya memenuhi kriteria pre-emptive strike klasik, yaitu menghadapi ancaman yang benar-benar segera. Saya cenderung membaca ini sebagai strategi ofensif yang memanfaatkan momentum,” katanya.
Mengacu pada teori offensive realism dalam hubungan internasional, perilaku agresif negara muncul ketika terdapat peluang untuk melemahkan lawan. Dalam konteks ini, situasi politik internal Iran dipersepsikan sebagai kerentanan yang membuka “window of opportunity” bagi rivalnya.
Indikasi Target Politik
Maryam juga menyoroti laporan sejumlah media Barat dan pernyataan Presiden Trump yang menyebut tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurutnya, jika narasi tersebut ingin ditanamkan sebagai fakta, maka dampaknya berpotensi besar terhadap stabilitas domestik Iran.
“Jika benar keyakinan bahwa Khamenei telah tiada ingin dibangun, efek yang diharapkan bisa berupa gejolak internal, friksi elite, dan pelemahan rezim,” ujarnya.
Ia membandingkan kemungkinan tersebut dengan pengalaman negara-negara Timur Tengah pasca Arab Spring. Di Libya setelah jatuhnya Muammar Gaddafi dan di Irak pasca pemerintahan Saddam Hussein, perubahan rezim justru diikuti instabilitas berkepanjangan dan kekosongan kekuasaan.
Potensi Perang Regional
Meski demikian, Maryam menilai potensi konflik berkembang menjadi perang regional masih sangat bergantung pada tingkat pengendalian diri para aktor utama.
“Eskalasi besar hanya akan terjadi jika Iran dan koalisi AS di Timur Tengah terlibat konfrontasi langsung. Jika kedua pihak menahan diri, konflik bersenjata kemungkinan tidak meluas,” katanya.
Ia menambahkan, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dilaporkan mulai bersiap menghadapi kemungkinan skenario terburuk, terutama terkait keamanan jalur energi dan stabilitas ekonomi kawasan.
Dampak terhadap Normalisasi Israel-Arab
Eskalasi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab melalui Abraham Accords.
Dalam perspektif realisme, meningkatnya ancaman Iran justru dapat mendorong negara-negara yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel untuk semakin mendekat ke Tel Aviv dan Washington demi keamanan, sebuah perilaku yang dikenal sebagai bandwagoning.
Sebaliknya, dari sudut pandang liberalisme, jaringan kerja sama ekonomi yang telah terbentuk menjadi faktor penahan.
Interdependensi ekonomi antara Israel dan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan menciptakan biaya politik serta ekonomi yang tinggi jika hubungan diputus.
“Kelangsungan normalisasi sangat tergantung pada seberapa kuat ketergantungan ekonomi yang telah terbentuk,” jelas Maryam.
Respons Rusia dan TiongkokSerangan AS-Israel ke Iran, Begini Respons Rusia dan Tiongkok
Di tingkat global, Rusia dan Tiongkok menunjukkan sikap hati-hati. Keduanya mengecam serangan secara diplomatik, tetapi belum menunjukkan indikasi keterlibatan langsung.
Menurut Maryam, kepentingan energi menjadi faktor krusial bagi Beijing. Sekitar 40 persen impor minyak Tiongkok melewati Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu dalam waktu lama, tekanan ekonomi dapat mendorong Tiongkok mengambil langkah lebih aktif.
Sementara itu, Rusia berada pada posisi berbeda. Sebagai eksportir energi, kenaikan harga minyak berpotensi menguntungkan Moskow. Namun ketidakstabilan global dan potensi keterlibatan Eropa tetap menjadi pertimbangan strategis.
“Dalam jangka pendek, kedua negara kemungkinan memilih menahan diri agar konflik tidak semakin kompleks,” ujarnya.
Titik Balik atau Penataan Ulang?
Dengan demikian, serangan 28 Februari 2026 bukan sekadar operasi militer, melainkan bagian dari pertarungan strategis yang melibatkan kepentingan domestik, regional, hingga global.
Apakah operasi serangan ini akan menjadi titik balik menuju perang besar di Timur Tengah atau justru memicu penataan ulang keseimbangan kekuatan kawasan, jawabannya kini bergantung pada keputusan para aktor yang terlibat apakah memilih jalur eskalasi atau pengendalian diri.
Editor: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.


