KPK Periksa 5 Kepala Bappeda dan 2 Kadis Terkait Dugaan Suap Bantuan Pemprov Jatim

174
KPK memanggil lima kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di wilayah Jawa Timur.
KPK memanggil lima kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di wilayah Jawa Timur.
Jatim, Radar BI | Penyidikan kasus dugaan suap pengalokasian anggaran bantuan keuangan Provinsi Jatim periode tahun 2014-2018 terus bergulir. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia memanggil lima kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di wilayah Jawa Timur (Jatim) tersebut, pada hari Kamis (15/9/2022),

Kelimanya dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jatim 2014-2016 dan Kepala Bappeda Provinsi Jatim 2017-2018 Budi Setiawan (BS) dan kolega.

“Pemeriksaan dilakukan di Kantor Polrestabes Surabaya,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri di Jakarta.

Ke lima saksi tersebut, yakni Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto Bambang Eko Wahyudi, Kepala Bappeda Kabupaten Jombang Danang Praptoko, Kepala Bappeda Kabupaten Sidoarjo Heri Soesanto, Kepala Bappeda Kabupaten Malang Tomie Herawanto, dan Kepala Bappeda Kota Malang Dwi Rahayu.

BACA JUGA  Tim Evakuasi Berhasil Capai Lokasi Rombongan Kapolda Jambi di Hutan Tamiai

Selain itu, KPK juga memanggil Kepala Dinas PUPR Kabupaten Pasuruan Hanung Widya Sasangka untuk diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan kasus tersebut.

Adapun penetapan BS sebagai tersangka setelah KPK melakukan serangkaian penyelidikan berdasarkan fakta hukum persidangan perkara mantan Bupati Tulungagung Syahri Mulyo dan kawan-kawan serta perkara Direktur PT Kediri Putra Tigor Prakasa.

Dalam konstruksi perkara, KPK menduga tersangka BS yang saat itu menjabat Kepala BPKAD Provinsi Jatim sepakat akan memberikan bantuan keuangan Provinsi Jatim kepada Kabupaten Tulungagung dengan pemberian “fee” antara 7-8 persen dari total anggaran yang diberikan.

BACA JUGA  Group Randai Alang Babega Diresmikan, Irwan Basir: Upaya Pelestarian Nilai Adat dan Budaya di Minangkabau

Selanjutnya pada tahun 2015, Kabupaten Tulungagung mendapatkan bantuan keuangan Provinsi Jatim sebesar Rp.79,1 miliar.

Atas alokasi bantuan keuangan Provinsi Jatim yang diberikan kepada Kabupaten Tulungagung maka Sutrisno selaku Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tulungagung memberikan “fee” kepada tersangka BS sebesar Rp.3,5 miliar.

Kemudian pada tahun 2017, tersangka BS diangkat menjadi Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur sehingga kewenangan pembagian bantuan keuangan menjadi kewenangan mutlak tersangka BS.

Pada tahun 2017, Sutrisno atas izin mantan Bupati Syahri Mulyo juga diminta untuk mencarikan anggaran bantuan keuangan di Provinsi Jatim sehingga Sustrisno juga menemui tersangka BS untuk meminta alokasi anggaran bagi Kabupaten Tulungagung.

BACA JUGA  KSP Tegaskan Tak Ada Penetapan Status Darurat Sipil di Papua

Maka dari itu, pada anggaran perubahan tahun 2017, Kabupaten Tulungagung mendapatkan alokasi bantuan keuangan sebesar Rp30,4 miliar dan tahun 2018 sebesar Rp29,2 miliar.

KPK menduga sebagai komitmen atas alokasi bantuan keuangan yang diberikan kepada Kabupaten Tulungagung maka pada 2017 dan 2018, Syahri Mulyo melalui Sutrisno memberikan “fee” sebesar Rp6,75 miliar kepada tersangka BS.

Atas perbuatannya, tersangka BS disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-?Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (antara/faz/jpnn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini