Radar Berita Indonesia – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme insan pers. Dari perkiraan sekitar 3.000 orang yang mengaku sebagai wartawan di Sumatera Barat, baru sekitar 600 orang yang tercatat sebagai anggota PWI Sumbar.
Kondisi tersebut disampaikan Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Sumbar, Zul Effendi, S.H., saat memberikan sambutan sekaligus menutup kegiatan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Sumbar Angkatan I 2026 di Edotel, Jumat (14/8/2026) tengah malam.
Menurut Zul Effendi, kondisi itu menunjukkan masih besarnya ruang bagi PWI Sumbar untuk memperluas pembinaan sekaligus meningkatkan kualitas wartawan di Sumatera Barat.
“Terjadi penciutan anggota PWI di Sumatera Barat jika dibandingkan dengan jumlah wartawan yang ada,” ujar Zul Effendi.
Ia menilai persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai jumlah anggota organisasi, tetapi juga menyangkut bagaimana membangun ekosistem pers yang profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi etika jurnalistik.
Sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Sumbar, Zul Effendi menekankan pentingnya wartawan memahami dan menjalankan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam setiap aktivitas jurnalistik.
Menurutnya, etika tidak sekadar aturan tertulis yang harus dipatuhi wartawan, tetapi merupakan bagian dari karakter dan sikap dalam menjalankan profesi.
“Etik itu akhlak. Dalam agama Islam, etik itu disebut adab. Justru itu kita seyogianya bersama-sama membangun keadaban sebagai wartawan,” katanya.
OKK Bukan Akhir, tetapi Awal Pembinaan
Zul Effendi juga mengakui waktu pelaksanaan OKK yang relatif singkat membuat ruang diskusi antara peserta dan narasumber menjadi terbatas. Namun, ia meyakini materi pokok yang diberikan selama kegiatan telah memberikan pemahaman awal kepada para peserta.
Ia menegaskan, OKK merupakan kegiatan orientasi yang memperkenalkan organisasi, mekanisme kerja, serta berbagai aturan yang mengikat anggota PWI.
“Ini adalah kegiatan orientasi. Kawan-kawan diperkenalkan organisasi ini dan cara kerja anggotanya, aturan yang mengikat untuk dipedomani. Kawan-kawan pasti mengembangkan lebih lanjut, walau tidak menutup kemungkinan kegiatan diskusi dan pelatihan lebih lanjut,” ujarnya.
Karena itu, Zul Effendi mendorong PWI kabupaten dan kota di Sumatera Barat agar aktif menggelar kegiatan peningkatan kapasitas wartawan secara berkelanjutan.
Menurutnya, pelatihan tidak hanya berkaitan dengan teknik dasar jurnalistik, tetapi juga harus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri pers saat ini.
Salah satu bidang yang dinilai penting adalah pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung kerja jurnalistik.
“Secara mandiri PWI Kabupaten/Kota masing-masing bisa mengadakan pelatihan-pelatihan kewartawanan dan keprofesionalan, misalnya bagaimana memanfaatkan teknologi digital dalam melaksanakan tugas-tugas kewartawanan,” katanya.
Zul Effendi juga menyebut keberadaan Wakil Ketua Bidang Digital dan Teknologi Informasi PWI Sumbar, Anto Leo, dapat menjadi salah satu sumber daya untuk mendukung penguatan kapasitas wartawan di bidang teknologi.
Selain teknologi digital, ia membuka peluang pengembangan pelatihan berdasarkan bidang liputan, seperti jurnalistik budaya, ekonomi, olahraga, pemerintahan, dan bidang lainnya.
PWI Diminta Jaga Integritas
Sebelumnya, Sekretaris Umum PWI Sumbar, Firdaus Abi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti OKK hingga kegiatan berakhir.
Ia menilai antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keseriusan dalam mengikuti proses pembinaan organisasi.
“Luar biasa, kawan-kawan telah menunjukkan keseriusan. Sampai malam ini masih tetap mengenakan baju seragam warna putih yang telah dipakai sejak pagi tadi,” ujar Abi.
Firdaus Abi juga mengingatkan seluruh wartawan PWI, baik yang telah mengikuti OKK dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) maupun para calon anggota, untuk bersama-sama menjaga nama baik dan integritas organisasi.
“Marilah kita jaga sikap profesionalitas dan integritas kita,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan media yang semakin cepat. Wartawan tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga harus memastikan setiap berita memenuhi prinsip akurasi, keberimbangan, independensi, serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
Ketua Panitia: Jaga Marwah PWI
Ketua Panitia OKK PWI Sumbar Angkatan I 2026, M. Khudri, juga menyampaikan apresiasi kepada peserta dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Meski kegiatan berlangsung selama dua hari dengan waktu yang terbatas, ia berharap materi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi peserta dalam menjalankan profesi jurnalistik sekaligus memahami organisasi PWI.
“Ayo kita jaga marwah PWI. Kita menjadi wartawan dengan benar, hidupkan organisasi kita, PWI sebagai organisasi wartawan yang memegang teguh kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa menjadi wartawan bukan sekadar memiliki identitas atau bekerja di perusahaan media. Profesi tersebut membutuhkan tanggung jawab moral, kemampuan jurnalistik, serta komitmen terhadap kepentingan publik.
Peserta: OKK Menjadi Bekal Menjalankan Tugas Pers
Salah seorang peserta dari Kota Padang, Dedi Prima Maha Rajo Dirajo, mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan berharga selama mengikuti OKK PWI Sumbar Angkatan I 2026.
Menurut Dedi, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai dunia jurnalistik, tetapi juga memperkuat pengetahuan tentang kode etik, profesionalisme, organisasi, serta tanggung jawab wartawan kepada masyarakat.
Ia menilai materi yang diterima selama kegiatan dapat menjadi bekal untuk menjalankan tugas pers secara lebih bertanggung jawab, independen, dan berintegritas.
“Saya merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Berbagai materi, pengalaman, serta kebersamaan yang terbangun menjadi bekal penting untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai insan pers,” ujarnya Dedi Prima, pada hari Sabtu (14/8/2026) Pagi.
Dedi berharap PWI Sumbar terus menjadi wadah pembinaan yang mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan di Sumatera Barat.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan ilmu yang diperoleh selama OKK bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pedoman dalam menjalankan tugas jurnalistik sehari-hari.
Menurutnya, wartawan harus mampu menghasilkan karya yang akurat, berimbang, beretika, independen, dan berpihak pada kebenaran serta kepentingan publik.
Tantangan Pers di Era Digital
Kegiatan OKK PWI Sumbar Angkatan I 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum pengenalan organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa profesi wartawan memiliki tanggung jawab besar terhadap publik.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media digital, profesionalisme menjadi semakin penting. Kecepatan menyampaikan berita harus berjalan seiring dengan ketelitian melakukan verifikasi.
Wartawan juga dituntut mampu membedakan fakta dan opini, melakukan konfirmasi terhadap pihak terkait, menjaga independensi, serta menghindari pemberitaan yang dapat merugikan seseorang tanpa dasar yang jelas.
PWI Sumbar diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut melalui pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan kompetensi, penguatan organisasi, serta penegakan kode etik.
Dengan demikian, keberadaan organisasi wartawan tidak hanya diukur dari jumlah anggotanya, tetapi juga dari kualitas, integritas, dan kontribusi anggotanya dalam menghadirkan informasi yang sehat bagi masyarakat.
OKK PWI Sumbar Angkatan I 2026 pun diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun insan pers yang tidak hanya profesional dalam bekerja, tetapi juga memiliki adab, integritas, dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsi pers sebagai bagian penting dari kehidupan demokrasi. (*)


