Radar Berita Indonesia – Pemerintah Iran memperkenalkan teknologi peluncur rudal kembar (twin-missile launch system) dalam serangan balasan terbarunya terhadap Israel.
Inovasi rudal kembar ini tidak berfokus pada jenis senjata baru, melainkan pada metode peluncuran yang lebih efisien dan berpotensi meningkatkan volume serangan secara signifikan melalui skema rudal kembar.
Langkah penggunaan rudal kembar ini diumumkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai bagian dari “fase baru” strategi militer mereka.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Seyyed Majid Mousavi, menyatakan bahwa penerapan rudal kembar pada rudal Fateh dan Kheibar Shekan memungkinkan intensitas serangan meningkat hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Satu Peluncur, Dua Rudal Kembar Sekaligus
Dalam sistem konvensional, satu peluncur hanya mampu menembakkan satu rudal dalam satu siklus. Namun, melalui teknologi rudal kembar, dua rudal dapat diluncurkan hampir bersamaan dari satu platform tanpa perlu menambah jumlah kendaraan peluncur, sehingga efektivitas operasional rudal kembar meningkat signifikan.
Dua jenis rudal kembar yang digunakan antara lain:
– Fateh series, yakni rudal balistik berbahan bakar padat dengan tingkat presisi tinggi untuk jarak pendek hingga menengah yang kini dioptimalkan dalam skema rudal kembar.
– Kheibar Shekan, rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan hingga 1.450 kilometer yang juga diintegrasikan dalam sistem rudal kembar untuk meningkatkan daya tekan serangan.
Selain itu, sistem ini mengadopsi taktik shoot-and-scoot, yakni meluncurkan rudal dengan cepat lalu segera berpindah lokasi guna menghindari deteksi atau serangan balasan. Peluncur dipasang pada sasis truk komersial beroda 10 yang dapat disamarkan sebagai kendaraan sipil.
Mengapa Dinilai Mengkhawatirkan?
Keunggulan utama sistem ini terletak pada efisiensi dan peningkatan volume serangan, bukan semata pada kecanggihan rudalnya. Dalam waktu singkat, jumlah rudal yang diluncurkan dapat meningkat drastis.
Di sisi lain, Israel mengandalkan sistem pertahanan udara berlapis seperti:
– Iron Dome
– David’s Sling
– Arrow missile defense system
Meski canggih, setiap lapisan memiliki kapasitas intersepsi terbatas. Lonjakan jumlah rudal dalam waktu singkat berisiko membuat sistem tersebut kewalahan (overload).
Ancaman semakin kompleks dengan penggunaan hulu ledak cluster munition, yang dapat terpecah di udara dan menyebarkan puluhan munisi kecil ke area luas. Hal ini membuat satu target berubah menjadi banyak objek sekaligus, sehingga memperberat kerja sistem pertahanan udara.
Selain itu, penggunaan bahan bakar padat pada rudal seperti Kheibar Shekan mempercepat waktu persiapan peluncuran. Dampaknya, sistem radar lawan memiliki waktu respons yang jauh lebih singkat.
Respons dan Situasi Terkini
Militer Israel menyatakan sebagian besar rudal masih berhasil dicegat, namun mengakui adanya tekanan signifikan terhadap sistem pertahanan akibat meningkatnya intensitas serangan.
Sejumlah laporan menyebutkan adanya kerusakan infrastruktur dan korban sipil akibat pecahan munisi yang lolos dari intersepsi.
Di sisi lain, operasi militer gabungan antara Israel dan Amerika Serikat terus menargetkan infrastruktur peluncur rudal Iran. Serangan tersebut diklaim berhasil menekan jumlah peluncuran harian.
Namun, justru dalam kondisi tekanan inilah sistem peluncur kembar menjadi relevan. Dengan jumlah peluncur yang lebih sedikit, Iran tetap mampu mempertahankan volume serangan.
Analisis dan Catatan
Sejumlah analis militer menilai pendekatan ini signifikan bukan karena teknologi revolusioner, melainkan karena strategi yang sederhana namun efektif.
Iran dinilai tidak perlu mengembangkan rudal baru, cukup memaksimalkan sistem yang ada dengan metode peluncuran yang lebih agresif.
Meski demikian, skeptisisme tetap muncul. Beberapa pengamat mempertanyakan apakah sistem ini benar-benar inovasi baru atau hanya pengembangan dari teknologi peluncur mobile yang telah lama dimiliki Iran.
Selain itu, klaim IRGC terkait keberhasilan serangan belum dapat diverifikasi secara independen.
Yang jelas, kemunculan sistem peluncur kembar ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan militer yang intens, Iran terus beradaptasi secara taktis untuk menjaga daya serangnya tetap efektif dan relevan.


