BerandaBUDAYASiapa Sosok Irwan Basir Datuk Rajo Alam? Langkah Tokoh Masyarakat Padang Menuju...

Siapa Sosok Irwan Basir Datuk Rajo Alam? Langkah Tokoh Masyarakat Padang Menuju Kursi Ketua LKAAM

Radar Berita Indonesia – Nama Irwan Basir, SH, MM, Datuk Rajo Alam, kembali menjadi perhatian publik di Kota Padang. Kiprahnya di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga bersentuhan dengan kehidupan adat Minangkabau.

Pada September 2026, nama Irwan Basir semakin mencuat setelah dirinya menyatakan kesiapan maju sebagai calon Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang.

Langkah tersebut menempatkan sosok yang akrab disapa Datuk Rajo Alam itu dalam posisi penting di tengah dinamika kelembagaan adat di Kota Padang.

Lantas, siapa sebenarnya Irwan Basir Datuk Rajo Alam?

Rekam Jejak di Tengah Masyarakat

Irwan Basir dikenal sebagai salah seorang figur yang cukup aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan di Kota Padang.

Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat keterlibatannya dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pemberdayaan masyarakat, kegiatan sosial, hingga persoalan yang berkaitan dengan adat dan kehidupan nagari.

Pada Januari 2020, Irwan Basir dilantik sebagai Ketua DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Padang. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa LPM harus menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Posisi tersebut membuat aktivitas Irwan Basir bersinggungan langsung dengan berbagai persoalan pembangunan dan kebutuhan masyarakat di tingkat kelurahan hingga nagari.

Dalam sejumlah kegiatan, ia juga tercatat menyampaikan pandangan mengenai persoalan sosial, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, narkoba, kebencanaan, hingga pentingnya menjaga nilai budaya dan kearifan lokal.

Dekat dengan Persoalan Adat

Selain aktivitas kemasyarakatan, Irwan Basir juga dikenal memiliki keterlibatan dalam kelembagaan adat di kawasan Pauh IX, Kuranji.

Sejumlah sumber menyebut dirinya pernah dan/atau menjabat dalam struktur kelembagaan adat, termasuk sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Adat (MPA) KAN Pauh IX Kuranji.

Keterlibatan tersebut menjadi salah satu alasan namanya kemudian muncul dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan LKAAM Kota Padang.

Bagi masyarakat Minangkabau, lembaga adat bukan sekadar organisasi formal. Keberadaannya berkaitan dengan peran ninik mamak, penghulu, nilai adat, hubungan sosial masyarakat, serta penerapan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Karena itu, figur yang memimpin lembaga adat dituntut tidak hanya memahami struktur organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan menjembatani kepentingan berbagai unsur masyarakat.

Dari Aktivitas Sosial hingga Persoalan Generasi Muda

Perhatian Irwan Basir terhadap persoalan sosial juga pernah terlihat dalam pandangannya mengenai penyalahgunaan narkotika.

Dalam sebuah kegiatan pada 2020, ketika menjabat Ketua DPD LPM Kota Padang, Irwan Basir menilai penanganan korban penyalahgunaan narkotika membutuhkan perhatian lebih besar dari pemerintah.

Ia membedakan antara korban penyalahgunaan narkotika dengan pengedar dan mendorong pendekatan rehabilitasi terhadap mereka yang menjadi korban ketergantungan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kemasyarakatannya tidak hanya berfokus pada persoalan adat, tetapi juga menyentuh isu sosial yang berkaitan dengan masa depan generasi muda.

Menempatkan Adat sebagai Pedoman Kehidupan

Dalam perkembangan terbaru, Irwan Basir kembali menegaskan pentingnya nilai ABS-SBK dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Menjelang pemilihan Ketua LKAAM Kota Padang yang dijadwalkan pada September 2026, ia menyatakan kesiapan untuk ikut dalam kontestasi tersebut.

Sejumlah pemberitaan mengenai pencalonannya menyebut Irwan Basir membawa gagasan penguatan kelembagaan adat dan menjadikan nilai ABS-SBK sebagai salah satu pijakan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.

Bagi Irwan Basir, adat tidak cukup hanya dibicarakan dalam kegiatan seremonial. Nilai adat, menurut pandangan yang diberitakannya, harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari upaya menjaga generasi muda dari berbagai persoalan sosial.

“Tidak Kemana-mana, Tapi Ada di Mana-mana”

Di tengah masyarakat, Irwan Basir juga dikenal dengan ungkapan “Tidak Kemana-mana, Tapi Ada di Mana-mana.”

Ungkapan tersebut menggambarkan gaya komunikasi dan aktivitas sosial yang selama ini dilekatkan kepada dirinya.

Namun, dalam perspektif jurnalistik, popularitas maupun penilaian masyarakat terhadap seorang tokoh tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari fakta sosial, bukan sebagai kesimpulan mutlak mengenai kualitas seseorang.

Karena itu, rekam jejak Irwan Basir perlu dilihat dari aktivitas, jabatan, pernyataan, serta kontribusi yang dapat diverifikasi.

Tantangan Jika Terpilih Memimpin LKAAM

Pencalonan sebagai Ketua LKAAM Kota Padang tentu membawa tantangan tersendiri.

LKAAM merupakan lembaga yang bersentuhan langsung dengan persoalan adat, ninik mamak, penghulu, anak kemenakan, serta dinamika sosial masyarakat Minangkabau.

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, persoalan adat tidak hanya menyangkut pelestarian tradisi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai adat dapat tetap relevan dalam menghadapi persoalan generasi muda, narkoba, konflik sosial, perubahan budaya, serta hubungan antara lembaga adat dan pemerintah.

Di titik inilah rekam jejak seorang calon pemimpin LKAAM akan diuji.

Irwan Basir sendiri menyatakan pencalonannya sebagai bagian dari niat untuk memperkuat peran lembaga adat dan menjaga marwah adat Minangkabau.

Bukan Sekadar Persoalan Jabatan

Bagi Irwan Basir, pencalonan sebagai Ketua LKAAM Kota Padang bukan semata-mata persoalan mendapatkan posisi organisasi.

Setidaknya, demikian yang disampaikan dalam pemberitaan mengenai pencalonannya. Ia menempatkan pengabdian, penguatan kelembagaan adat, persatuan ninik mamak, serta penerapan ABS-SBK sebagai bagian dari alasan keikutsertaannya.

Namun, keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme organisasi dan para pemangku adat yang memiliki hak dalam proses pemilihan.

Karena itu, masyarakat tidak hanya akan melihat siapa yang paling populer, tetapi juga siapa yang memiliki kapasitas, rekam jejak, kemampuan merangkul berbagai kelompok, serta gagasan yang dapat diterapkan untuk memperkuat kelembagaan adat Kota Padang.

Siapa Irwan Basir Datuk Rajo Alam?

Dengan melihat perjalanan aktivitasnya, Irwan Basir Datuk Rajo Alam dapat ditempatkan sebagai figur yang memiliki pengalaman di tiga ruang utama: kemasyarakatan, pemberdayaan masyarakat, dan adat.

Pengalamannya di LPM mempertemukannya dengan persoalan pembangunan masyarakat. Keterlibatannya dalam kelembagaan adat membawanya lebih dekat dengan persoalan ninik mamak dan kehidupan nagari. Sementara aktivitas sosialnya membuat namanya dikenal di sejumlah kalangan masyarakat Kota Padang.

Kini, tantangan baru berada di depan mata.

Jika terpilih memimpin LKAAM Kota Padang, masyarakat tentu akan menunggu bagaimana gagasan yang selama ini disampaikan dapat diterjemahkan menjadi program dan kebijakan kelembagaan yang konkret.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin adat bukan hanya pada gelar maupun jabatan yang disandang, tetapi pada kemampuan menjaga marwah adat, merawat persatuan, menyelesaikan persoalan secara bijak, dan memastikan nilai-nilai Minangkabau tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Irwan Basir Datuk Rajo Alam kini berada pada fase baru perjalanan pengabdiannya. Pencalonannya sebagai Ketua LKAAM Kota Padang menjadi momentum untuk menguji sejauh mana pengalaman sosial, kemasyarakatan, dan adat yang dimilikinya mampu diterjemahkan menjadi kepemimpinan yang dapat diterima berbagai unsur masyarakat.

Penulisan: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read