Radar Berita Indonesia – Tragedi memilukan menimpa seorang anak sekolah dasar bernama Yohanes Bastian Roja (10) yang ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa Yohanes Bastian Roja ini menyita perhatian publik setelah terungkap bahwa kemiskinan dan ketidakmampuan membeli buku serta pena diduga menjadi faktor yang memberatkan beban psikologis korban.
Korban adalah Yohanes Bastian Roja, siswa SD berusia 10 tahun. Ibunya bernama Maria Goreti Te’a (47), seorang ibu dengan lima anak yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Yohanes Bastian Roja ditemukan meninggal dunia, diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada sang ibu di lokasi kejadian.
Peristiwa tragis ini diketahui terjadi pada siang hari, setelah korban sebelumnya diantar ke rumah neneknya pada pagi hari.
Kejadian berlangsung di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di area pondok sederhana milik nenek korban yang berada satu rute dengan sekolah.
Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, korban hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Sebelum kejadian, Yohanes Bastian Roja sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi.
Pada pagi hari sebelum kejadian, Yohanes mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun sang ibu tetap memintanya berangkat agar tidak tertinggal pelajaran.
“Saya nasihati dia supaya rajin sekolah. Lalu saya tahan ojek dan minta diantar ke rumah neneknya,” tutur Maria Goreti dengan suara lirih.
Maria mengira anak bungsunya itu kemudian berangkat ke sekolah. Namun hingga siang hari, kabar duka datang dan membuatnya terpukul.
“Saya kaget sekali saat dengar kabar anak saya ditemukan sudah meninggal,” ujarnya sambil menahan tangis.
Hidup dalam Keterbatasan
Maria Goreti menghidupi keluarganya dari jualan kayu bakar dan hasil kebun. Pisang dan ubi menjadi makanan sehari-hari.
Yohanes, anak bungsu dari lima bersaudara, telah kehilangan ayah kandungnya sejak masih dalam kandungan.
Sejak usia 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh neneknya yang kini berusia sekitar 80 tahun dan tinggal di pondok berdinding bambu di kebun.
Selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar demi memenuhi kebutuhan hidup.
Surat Terakhir untuk Ibu
Dalam olah TKP, polisi menemukan surat bertuliskan bahasa daerah Ngada yang menyayat hati:
“Mama, saya pergi dulu.
Mama, relakan saya pergi.
Jangan menangis, Mama.
Tidak perlu Mama mencari dan merindukan saya. Selamat tinggal, Mama.”
Kesaksian Warga
Saksi mata, Gregorius Kodo, menyebut keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup. Saat kejadian, nenek Yohanes sedang berada di rumah tetangga.
“Sebelum kejadian, korban sempat minta uang untuk beli buku dan pena, tapi ibunya tidak punya,” ungkap Gregorius.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak, sekaligus pengingat bahwa kemiskinan, minimnya perhatian, dan keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan kehadiran negara dan kepedulian bersama.


