BerandaPERISTIWATanpa Nisan dan Penanda, Ziarah di Tabing Banda Gadang Dipenuhi Kebingungan

Tanpa Nisan dan Penanda, Ziarah di Tabing Banda Gadang Dipenuhi Kebingungan

Radar Berita Indonesia – Minggu (15/2/2026), cuaca mendung menyelimuti kawasan Tabing Banda Gadang, Kota Padang. Suasana itu seakan menggambarkan suasana hati ratusan warga yang berziarah ke pandam kuburan setempat. Pasca banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu, area pemakaman tersebut tertimbun sedimen hingga rata dengan tanah.

Menjelang Bulan Ramadan, tradisi ziarah kubur biasanya ramai dilakukan warga. Mereka datang untuk membersihkan makam orang tua, anak, kakak, serta sanak saudara, sekaligus menaburkan bunga dan menyiramkan air sembari memanjatkan doa agar arwah almarhum dan almarhumah diterima di sisi Allah SWT.

Minggu (15/2/2026), cuaca mendung menyelimuti kawasan Tabing Banda Gadang, Kota Padang. Suasana itu seakan menggambarkan suasana hati ratusan warga yang berziarah ke pandam kuburan setempat. Pasca banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu, area pemakaman tersebut tertimbun sedimen hingga rata dengan tanah.
Minggu (15/2/2026), cuaca mendung menyelimuti kawasan Tabing Banda Gadang, Kota Padang. Suasana itu seakan menggambarkan suasana hati ratusan warga yang berziarah ke pandam kuburan setempat. Pasca banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu, area pemakaman tersebut tertimbun sedimen hingga rata dengan tanah.

Namun, ziarah tahun ini berbeda. Di Pandam Kuburan Tabing Banda Gadang, warga justru diliputi kebingungan. Tidak ada lagi batu nisan atau tanda makam yang bisa menjadi penunjuk. Sedimen banjir dan material longsor telah menutupi seluruh area, menghilangkan jejak makam yang sebelumnya tersusun rapat.

Warga hanya mengandalkan ingatan dan perkiraan posisi untuk menentukan lokasi makam keluarga mereka. Sebagian mencoba mengenali titik berdasarkan tanda-tanda lama yang masih samar terlihat.

Untuk mencegah hilangnya jejak kembali, mereka menancapkan sepotong kayu atau menumpuk sedikit tanah sebagai penanda sementara.

“Hilang jejak di mana lokasi orang tua dikuburkan. Semuanya sudah rata dengan tanah. Kami tidak tahu lagi di mana pastinya makam orang tua. Apalagi makamnya berdekatan dan rapat, sekarang sulit menentukan posisinya,” ujar Upik dengan mata berkaca-kaca.

Kondisi serupa dialami ratusan warga lainnya, termasuk keluarga dari Suku Caniago yang memiliki pandam kuburan di lokasi tersebut. Mereka hanya bisa pasrah dan berusaha mencari arah makam keluarga masing-masing di tengah perubahan kontur tanah akibat bencana.

Peristiwa ini menjadi potret dampak banjir dan longsor yang tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghapus penanda makam yang memiliki nilai emosional dan historis bagi keluarga.

Warga berharap adanya perhatian dan solusi dari pihak terkait untuk penataan kembali area pemakaman agar tradisi ziarah tetap dapat dilaksanakan dengan layak.

Sejumlah warga berharap pemerintah daerah bersama unsur terkait segera melakukan pendataan ulang terhadap titik-titik makam yang terdampak.

Penataan kembali area pandam kuburan dinilai penting agar posisi makam dapat dipastikan, sekaligus mencegah terjadinya sengketa atau kesalahan penunjukan lokasi di kemudian hari.

Beberapa tokoh masyarakat setempat juga mengusulkan agar dilakukan pengukuran dan pemetaan ulang lahan pemakaman.

Selain untuk memastikan kembali letak makam, langkah tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pembangunan penanda permanen yang lebih kuat dan tahan terhadap bencana.

Menurut warga, sebelum bencana terjadi, area pandam kuburan tersusun rapi dengan batu nisan sebagai penanda.

Namun derasnya arus banjir yang membawa lumpur dan material longsor membuat seluruh permukaan tanah berubah. Ketinggian sedimen di sejumlah titik bahkan menutupi hampir seluruh bagian makam.

Di tengah keterbatasan, warga tetap berupaya menjaga tradisi ziarah. Meski tanpa kepastian titik makam, doa tetap dipanjatkan. Bunga tetap ditebarkan. Mereka meyakini, doa yang tulus tidak akan salah alamat meskipun penanda fisik telah hilang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat fisik dan material, tetapi juga menyentuh sisi batin masyarakat.

Hilangnya jejak makam bukan sekadar persoalan tanah yang rata, melainkan kehilangan ruang kenangan yang selama ini menjadi tempat melepas rindu dan mengirim doa.

Warga berharap, sebelum Ramadan tiba, ada langkah konkret untuk menata kembali Pandam Kuburan Tabing Banda Gadang agar tradisi ziarah dapat kembali berlangsung dengan lebih tertib dan khidmat.

Google News

Must Read

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini