Radar Berita Indonesia – Keberadaan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam membantu masyarakat ketika bencana terjadi. Namun, para relawan kemanusiaan tersebut dinilai hanya diaktifkan saat kondisi darurat, sementara pada situasi normal perhatian terhadap pembinaan dan kesejahteraan mereka masih menjadi tanda tanya.
TAGANA merupakan relawan yang dibentuk oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk membantu penanggulangan bencana. Peran mereka mencakup berbagai tugas penting, mulai dari evakuasi korban, pendirian dapur umum, hingga distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.
Dalam berbagai peristiwa bencana, TAGANA kerap menjadi pihak pertama yang turun langsung ke lapangan. Dengan semangat kemanusiaan dan pengabdian, mereka bekerja tanpa mengenal waktu demi membantu masyarakat yang tengah tertimpa musibah.
Namun di balik peran penting tersebut, sejumlah kalangan menilai keberadaan TAGANA di daerah seolah hanya dimanfaatkan ketika terjadi bencana. Ketika kondisi kembali normal, perhatian terhadap pembinaan, fasilitas, hingga kesejahteraan para relawannya dinilai masih sangat terbatas.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai sejauh mana perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan organisasi relawan kemanusiaan tersebut.
Para anggota TAGANA selama ini menjalankan tugas dengan semangat pengabdian yang tinggi. Mereka tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaga, tetapi juga kerap menghadapi risiko keselamatan ketika berada di lokasi bencana.
Peran taruna siaga bencana sering terlihat ketika terjadi berbagai bencana seperti banjir, longsor, maupun kebakaran. Para relawan ini terlibat aktif dalam kegiatan tanggap darurat, mulai dari proses evakuasi korban, pendirian posko pengungsian, hingga penyediaan makanan bagi masyarakat terdampak.
Meski demikian, nasib kesejahteraan anggota TAGANA dinilai masih belum mendapat perhatian serius. Banyak pihak menilai kondisi tersebut membuat keberadaan taruna siaga bencana seolah “ada dan tiada” terlihat saat bencana terjadi, namun kurang diperhatikan ketika situasi telah kembali normal.
Situasi ini pun memunculkan pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana perhatian pemerintah pusat dalam memperkuat keberadaan serta meningkatkan kesejahteraan para anggota taruna siaga bencana di daerah?
Padahal, sebagai relawan kemanusiaan yang berada di garis depan saat bencana terjadi, TAGANA memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana.
Tanpa dukungan yang memadai, dikhawatirkan semangat pengabdian para relawan tersebut lambat laun akan tergerus oleh keterbatasan fasilitas serta minimnya perhatian terhadap kesejahteraan mereka.
Karena itu, berbagai pihak berharap pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan TAGANA. Tidak hanya melalui pengakuan atas peran mereka saat bencana, tetapi juga lewat pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas, serta dukungan terhadap kesejahteraan para relawannya.
Dengan dukungan yang lebih kuat, TAGANA diharapkan dapat terus menjalankan perannya sebagai relawan kemanusiaan yang selalu siap membantu masyarakat kapan pun bencana terjadi.
Dari sisi kesejahteraan, para anggota TAGANA hanya memperoleh tali asih dengan nominal yang terbilang kecil.
Pemberiannya pun tidak rutin setiap bulan, bahkan terkadang baru diterima dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan sekali.
Dengan jumlah yang terbatas tersebut, banyak pihak menilai perhatian terhadap kesejahteraan relawan TAGANA masih belum sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang mereka emban saat membantu penanganan bencana.


