Sumbar, Radar Berita Indonesia | “Basilang Kayu Dalam Tungku Mangko Api Ka Hiduik” adalah pepatah Minangkabau yang mengandung makna mendalam. Secara harfiah, pepatah ini menggambarkan bagaimana kayu yang disusun bersilang di dalam tungku dapat menyalakan api dengan baik.
Namun, secara filosofis, pepatah ini memiliki arti bahwa kerja sama, harmoni, dan gotong royong dalam sebuah kelompok atau masyarakat akan menghasilkan keberhasilan atau kehidupan yang lebih baik.
Makna Utama:
1. Kerja Sama dan Kolaborasi
Setiap anggota masyarakat, seperti kayu dalam tungku, harus memiliki peran dan kontribusi masing-masing agar tujuan bersama tercapai.
2. Keseimbangan dan Keselarasan
Dalam setiap hubungan, baik itu di keluarga, organisasi, atau komunitas, diperlukan keseimbangan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan atau terbebani.
3. Pemikiran dan Strategi yang Bijak
Menyalakan api butuh teknik, begitu pula dalam kehidupan. Keputusan yang bijaksana dan strategi yang tepat akan membawa hasil yang diinginkan.
Pepatah ini sering digunakan dalam konteks sosial-budaya Minangkabau untuk mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Melanjutkan filosofi “Basilang Kayu Dalam Tungku Mangko Api Ka Hiduik”, ada beberapa nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan modern, baik secara individu maupun kolektif:
1. Dalam Keluarga
Gotong Royong: Setiap anggota keluarga harus saling membantu, misalnya dalam pekerjaan rumah atau mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan.
Keseimbangan Peran: Ayah, ibu, dan anak memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi. Ketika semua peran ini berjalan seimbang, kehidupan keluarga menjadi harmonis.
2. Dalam Organisasi atau Komunitas
Sinergi Antaranggota: Organisasi hanya bisa mencapai tujuannya jika setiap anggota memberikan kontribusi sesuai kemampuannya.
Konsensus dalam Keputusan: Seperti kayu yang harus disusun rapi agar api menyala stabil, keputusan bersama juga membutuhkan musyawarah untuk menciptakan keselarasan.
3. Dalam Masyarakat
Persatuan dan Kebersamaan: Masyarakat yang bersatu akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan, seperti bencana alam, masalah sosial, atau pembangunan ekonomi.
Keadilan Sosial: Seperti kayu yang harus dipilih sesuai ukurannya agar tidak timpang, setiap anggota masyarakat harus diberikan perlakuan yang adil sesuai perannya.
4. Dalam Konteks Pemerintahan
Keterlibatan Masyarakat: Pemerintah, seperti seorang koki yang menata kayu dalam tungku, harus melibatkan masyarakat untuk memastikan pembangunan berjalan lancar.
Pembangunan Berkelanjutan: Kayu yang habis terbakar harus diganti, demikian pula pembangunan harus memperhatikan kelestarian sumber daya agar tetap berkelanjutan.
Penutup
Pepatah ini adalah pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada satu individu atau pihak saja, melainkan pada harmoni dari semua elemen yang bekerja sama.
Prinsip ini sangat relevan untuk kehidupan modern, di mana kolaborasi menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan global maupun lokal. (DP)


