BerandaBUDAYAErianto Berhasil Dorong Budaya Lokal Jadi Magnet Wisata, Yenni Yulisa: Kuranji Diusulkan...

Erianto Berhasil Dorong Budaya Lokal Jadi Magnet Wisata, Yenni Yulisa: Kuranji Diusulkan Masuk HJK Padang 2027

Radar Berita Indonesia – Festival Astronomi yang digelar di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, berlangsung selama dua hari, 29-30 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme masyarakat dan menjadi ruang hiburan sekaligus edukasi, pengenalan potensi lokal, serta penguatan kegiatan berbasis budaya dan kearifan lokal.

Kegiatan yang berlangsung di tengah masyarakat itu turut mengangkat berbagai potensi Kecamatan Kuranji, mulai dari kehidupan sosial dan budaya hingga potensi pertanian yang masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.

Anggota DPRD Kota Padang, Erianto, menilai kegiatan yang mendapat sambutan masyarakat tersebut layak dikembangkan dan dilaksanakan dengan durasi lebih panjang.

Menurut Erianto, pelaksanaan selama dua hari dinilai belum cukup untuk memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat menikmati berbagai rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.

Karena itu, ia menyampaikan aspirasi agar kegiatan serupa pada masa mendatang dapat dilaksanakan hingga lima hari, tentunya dengan dukungan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan serta mekanisme yang berlaku.

“Kami menyampaikan kepada pemerintah kota, masyarakat kita berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan lebih lama, bahkan lima hari. Tentu dengan dukungan anggaran yang lebih besar,” ujar Erianto.

Menurutnya, Kuranji memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai ruang kegiatan masyarakat. Selain memiliki kehidupan sosial dan budaya yang kuat, wilayah tersebut juga memiliki kawasan persawahan dan sektor pertanian yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pemilihan Kuranji sebagai lokasi kegiatan, kata Erianto, dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi tersebut secara lebih luas sekaligus membuka ruang bagi kegiatan edukasi, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.

Aspirasi Masyarakat Jadi Dasar Kegiatan

Erianto mengatakan, pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Di hadapan tokoh masyarakat, alim ulama, niniak mamak, bundo kanduang, kaum ibu dan generasi muda, ia menjelaskan bahwa pokok-pokok pikiran anggota DPRD merupakan salah satu bagian dari proses perencanaan pembangunan daerah.

Kegiatan Padang Gastronomi Fest Malamang dan Food Festival yang mengusung tema “Dorong Pelestarian Adat Selingka Nagari Kuranji” tersebut turut dihadiri Camat Kuranji Rozaldi Rosman, S.STP., M.Si., beserta para lurah se-Kecamatan Kuranji. Hadir pula tokoh masyarakat, tokoh agama, niniak mamak, bundo kanduang, serta unsur pemuda, pemudi, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Kegiatan Padang Gastronomi Fest Malamang dan Food Festival yang mengusung tema “Dorong Pelestarian Adat Selingka Nagari Kuranji” tersebut turut dihadiri Camat Kuranji Rozaldi Rosman, S.STP., M.Si., beserta para lurah se-Kecamatan Kuranji. Hadir pula tokoh masyarakat, tokoh agama, niniak mamak, bundo kanduang, serta unsur pemuda, pemudi, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Menurutnya, aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada wakil rakyat perlu dihimpun dan diperjuangkan melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Pokok-pokok pikiran yang kami berikan untuk kegiatan ini merupakan aspirasi dan akumulasi dari apa yang disampaikan masyarakat kepada kami,” katanya.

Erianto berharap kegiatan yang mengangkat potensi Kuranji tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan menjadi penting agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.

Tidak hanya berkaitan dengan hiburan, kegiatan seperti itu juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebudayaan, memberikan edukasi kepada generasi muda, memperkenalkan potensi daerah dan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha.

Ia menilai komunikasi antara pemerintah, DPRD, tokoh masyarakat, pemangku adat dan generasi muda perlu terus diperkuat agar program yang dilaksanakan benar-benar memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Dinas Pariwisata Dorong Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, ST., MT., menilai kegiatan yang mengangkat potensi lokal dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pariwisata berbasis kearifan lokal.

Menurut Yenni, pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada objek wisata, tetapi juga dapat dilakukan dengan mengangkat budaya, tradisi, kuliner dan kehidupan sosial masyarakat di setiap wilayah.

“Hal ini sejalan dengan program Wali Kota Padang yang terus mendorong pengembangan potensi daerah, termasuk sektor pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan budaya yang dilaksanakan di tengah masyarakat tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

Salah satu potensi yang dinilai dapat dikembangkan adalah tradisi Malamang yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, termasuk di Kecamatan Kuranji.

Menurut Yenni, tradisi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya sekaligus mendukung pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Kegiatan budaya dapat menjadi ruang promosi bagi berbagai produk masyarakat, seperti kuliner tradisional, kerajinan dan produk UMKM lainnya. Dengan meningkatnya kunjungan masyarakat, pelaku usaha di sekitar lokasi juga berpeluang mendapatkan pasar yang lebih luas.

“Budaya kita kemudian dapat meningkatkan UMKM yang ada. Jadi UMKM yang ada di sekitar kita dapat berkembang, UMKM kita bisa menjadi naik kelas, dan ini tentunya akan meningkatkan pariwisata,” katanya.

Yenni menilai hubungan antara kebudayaan, pariwisata dan ekonomi masyarakat perlu dibangun secara berkelanjutan. Tradisi yang dipertahankan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif masyarakat.

Malamang Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Lebih lanjut, Yenni menyampaikan bahwa tradisi Malamang memiliki peluang untuk diperkenalkan secara lebih luas sebagai salah satu daya tarik wisata budaya.

Ia juga menyinggung peluang pengakuan internasional terhadap tradisi tersebut. Menurutnya, apabila suatu saat Malamang memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya melalui mekanisme UNESCO, potensi promosi budaya dan kunjungan wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara dapat semakin terbuka.

Namun, ia menekankan bahwa penguatan tradisi harus dilakukan terlebih dahulu secara konsisten melalui pelestarian dan pengembangan di tingkat masyarakat.

“Kalau kita sudah masuk di penghargaan UNESCO, tentu tidak kita saja yang akan hadir. Bahkan negara-negara luar pun, kalau kita budayakan Malamang di Kuranji ini, tentu negara lain akan berkunjung ke sini,” ujarnya.

Menurut Yenni, Kecamatan Kuranji memiliki peluang untuk mengembangkan potensi budaya sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, ia berharap kegiatan Malamang maupun kegiatan budaya lainnya tidak hanya berlangsung pada tahun ini, tetapi dapat dilanjutkan secara berkesinambungan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Erianto yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Pak Erianto. Tidak terlepas tahun ini saja, tahun depan kita berharap di Kuranji ini akan berlangsung kegiatan-kegiatan seperti ini,” katanya.

Kuranji Diharapkan Jadi Bagian HJK Padang 2027

Yenni juga berharap pelaksanaan Hari Jadi Kota Padang (HJK) pada 2027 nantinya dapat memberikan ruang kepada sejumlah wilayah untuk menampilkan potensi budaya masing-masing.

Ia berharap Kecamatan Kuranji dapat menjadi salah satu wilayah yang mendapat kesempatan menampilkan tradisi Malamang sekaligus memperkenalkan kuliner tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kita berharap Hari Jadi Kota Padang di 2027 akan digelar di beberapa daerah, dan kita berharap Kecamatan Kuranji dapat bagian dari kegiatan Malamang dan melestarikan kuliner di sini,” tuturnya.

Menurut Yenni, Malamang tidak sekadar berkaitan dengan proses memasak makanan tradisional berbahan beras pulut. Di dalam tradisi tersebut terdapat nilai sosial yang berkaitan dengan kebersamaan, gotong royong, kerukunan serta keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

“Bagaimana kita melakukan beras pulut itu kita masukkan ke bulu dan menjadi makanan tradisional yang akan kita angkat. Ini mengandung arti bahwa tidak saja bagaimana kita Malamang, tetapi bagaimana kita melestarikan kerukunan, gotong royong, dan juga melibatkan bundo kanduang kita dalam setiap hal,” pungkasnya.

Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi

Pelaksanaan Festival Astronomi dan pengembangan tradisi Malamang di Kecamatan Kuranji menunjukkan adanya ruang untuk menggabungkan kegiatan masyarakat dengan potensi budaya dan ekonomi lokal.

Bagi masyarakat Kuranji, keberadaan kegiatan berbasis budaya diharapkan tidak berhenti pada aspek seremonial. Keberlanjutan program diperlukan agar tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tetap dikenal, dipahami dan dilibatkan dalam kehidupan masyarakat, terutama oleh generasi muda.

Di sisi lain, pengembangan kegiatan budaya juga dapat menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat dan wisatawan.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, pelaku budaya, pelaku UMKM, generasi muda dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan potensi tersebut.

Dengan pendekatan yang terarah dan sesuai mekanisme pembangunan daerah, Kuranji diharapkan mampu mengembangkan potensi budaya dan kearifan lokal sebagai bagian dari kekuatan pariwisata Kota Padang, sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk tumbuh secara ekonomi tanpa menghilangkan nilai dan makna tradisi yang telah diwariskan.

Penulisan: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read