Radar Berita Indonesia – Layanan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Padang kembali menjadi sorotan publik. Selain masih munculnya pertanyaan mengenai kualitas air yang belum dapat dikonsumsi langsung dari keran, sejumlah pelanggan juga kembali mengeluhkan air yang mengalir ke rumah mereka dalam kondisi keruh kekuningan.
Keluhan tersebut datang dari sejumlah wilayah di Kota Padang, di antaranya Komplek Mega Mulia Belimbing, Kecamatan Kuranji, Lolong Belanti dan Ulak Karang di Kecamatan Padang Utara, serta Gunung Pangilun, Kecamatan Nanggalo.
Warga menilai kondisi tersebut mengganggu aktivitas rumah tangga dan memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas air yang mereka gunakan setiap hari.
Sorotan terhadap Perumda Air Minum Kota Padang tidak hanya berkaitan dengan kondisi air yang keruh, tetapi juga menyangkut makna nama perusahaan yang menggunakan istilah “Air Minum”.
Di tengah harapan masyarakat terhadap tersedianya air yang aman untuk dikonsumsi, kenyataan di lapangan menunjukkan sebagian besar pelanggan masih harus merebus air terlebih dahulu atau menggunakan alat penyaring tambahan sebelum diminum.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kesesuaian antara nama perusahaan dengan layanan yang diterima pelanggan. Selama bertahun-tahun, air yang mengalir dari keran umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi, mencuci, memasak, dan keperluan rumah tangga lainnya, sementara untuk kebutuhan konsumsi, banyak warga memilih membeli air minum isi ulang maupun air minum dalam kemasan.
Keluhan terbaru mengenai kualitas air kembali mencuat setelah sejumlah pelanggan melaporkan air yang mengalir ke rumah mereka berwarna keruh kekuningan.

Berdasarkan pengakuan warga, kondisi tersebut masih kerap terjadi sejak banjir bandang yang melanda Kota Padang pada 2025. Meski tidak berlangsung setiap hari, gangguan serupa disebut masih berulang dan menjadi perhatian masyarakat.
Salah seorang warga Komplek Mega Mulia Belimbing, Kecamatan Kuranji, Hamdan, mengatakan gangguan tersebut sangat memengaruhi aktivitas keluarganya. Menurut dia, air yang keluar dari keran sering kali harus diendapkan terlebih dahulu hingga kembali jernih sebelum dapat digunakan.
Gangguan terakhir, kata Hamdan, terjadi pada Rabu (8/7/2026) siang. Saat itu air yang mengalir tampak keruh kekuningan sehingga menimbulkan kekhawatiran untuk digunakan, terutama dalam kebutuhan memasak dan konsumsi.
“Setelah banjir besar tahun lalu, kondisi seperti ini masih sering terjadi. Air yang keluar dari keran kadang keruh, sehingga kami khawatir menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hamdan.
Keluhan serupa juga ramai disampaikan pelanggan melalui berbagai platform media sosial. Sejumlah unggahan memperlihatkan kondisi air yang berubah warna disertai harapan agar Perumda Air Minum Kota Padang segera melakukan evaluasi terhadap sistem pengolahan maupun distribusi air bersih.
Di sisi lain, persoalan ini kembali memunculkan diskusi mengenai kualitas layanan air perpipaan di Kota Padang. Sejumlah pihak menilai bahwa istilah “air minum” semestinya mencerminkan produk yang memenuhi standar kualitas air siap konsumsi, bukan sekadar air bersih yang masih memerlukan pengolahan lanjutan sebelum diminum.
Secara teknis, kualitas air yang telah diproduksi di instalasi pengolahan dapat mengalami perubahan selama proses distribusi. Faktor seperti kondisi air baku, sedimentasi pascabanjir, jaringan pipa yang telah berusia, kebocoran, maupun gangguan operasional dapat memengaruhi kualitas air saat sampai ke rumah pelanggan.
Karena itu, peningkatan kualitas instalasi pengolahan, peremajaan jaringan pipa, serta pengawasan kualitas air secara berkala dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Selain pembenahan infrastruktur, masyarakat juga berharap adanya keterbukaan informasi dari Perumda Air Minum Kota Padang mengenai hasil pengujian kualitas air, penyebab gangguan yang terjadi, serta langkah-langkah penanganan yang dilakukan.
Transparansi dinilai penting agar pelanggan memperoleh kepastian mengenai kualitas air yang mereka gunakan setiap hari.
Warga berharap Perumda Air Minum Kota Padang dapat segera mengatasi persoalan air keruh yang kembali terjadi di sejumlah wilayah sekaligus terus meningkatkan kualitas pelayanan.
Sebagai perusahaan penyedia layanan publik, keberadaan Perumda Air Minum diharapkan mampu menyediakan air yang bersih, aman, dan memenuhi standar kesehatan bagi seluruh pelanggan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Perumda Air Minum Kota Padang terkait penyebab kembali terjadinya air keruh di sejumlah kawasan maupun langkah penanganan yang sedang dilakukan.
Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak terkait guna memenuhi prinsip keberimbangan sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik. (*)


