BerandaSEJARAHFauzi Bahar, Figur Langka: Tegas, Religius, Akademis

Fauzi Bahar, Figur Langka: Tegas, Religius, Akademis

Radar Berita Indonesia – Nama Dr. Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., Datuak Nan Sati, tak dapat dilepaskan dari sejarah perjalanan Kota Padang pada awal abad ke-21.

Selama dua periode kepemimpinan (2004-2014), sosok pensiunan perwira TNI Angkatan Laut ini tampil sebagai figur pemimpin yang memadukan ketegasan militer, kecendekiaan akademik, serta nilai-nilai religius dalam tata kelola pemerintahan daerah.

Fauzi Bahar lahir di Padang pada 16 Agustus 1962. Latar belakang pendidikannya yang kuat serta pengalaman panjang di dunia militer menjadi modal utama ketika ia dipercaya masyarakat untuk memimpin ibu kota Provinsi Sumatera Barat tersebut.

Dari Militer ke Pemerintahan

Karier Fauzi Bahar dimulai di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) sejak tahun 1987. Ia mengakhiri masa dinasnya dengan pangkat Letnan Kolonel, serta pernah bertugas di satuan elite Satuan Pasukan Katak (Sapaska).

Dunia militer membentuk karakter kepemimpinan Fauzi yang dikenal tegas, disiplin, dan berorientasi pada hasil.

Namun, di tengah kesibukan sebagai prajurit, Fauzi tidak meninggalkan dunia akademik. Ia meraih gelar Magister di Universitas Indonesia dan kemudian menyelesaikan pendidikan Doktor di Universitas Negeri Padang. Kombinasi inilah yang menjadikannya figur langka: militer sekaligus akademisi.

Membangun Padang dengan Identitas Religius

Saat menjabat sebagai Wali Kota Padang, Fauzi Bahar dikenal luas karena kebijakan-kebijakannya yang menekankan penguatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial masyarakat.

Beberapa program yang hingga kini masih dikenang antara lain:

– Kewajiban berpakaian muslim bagi siswi Muslim

– Pesantren Ramadhan sebagai agenda tahunan pendidikan karakter

– Didikan Subuh untuk membentuk generasi religius sejak dini

– Gerakan Asmaul Husna di lingkungan pendidikan

– Optimalisasi zakat dan infaq sebagai instrumen sosial

– Pemberantasan penyakit masyarakat dan praktik maksiat

Kebijakan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi arah pembangunan sosial Kota Padang yang menempatkan agama sebagai pondasi moral masyarakat.

Prestasi dan Pengakuan Nasional

Di bawah kepemimpinannya, Kota Padang berhasil meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kegiatan keagamaan pelajar.

Padang juga dikenal sebagai salah satu kota dengan penguatan pendidikan karakter berbasis agama yang konsisten di tingkat nasional.

Meskipun berlatar belakang militer, Fauzi Bahar justru dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan ulama, tokoh adat, dan masyarakat akar rumput. Pendekatannya yang tegas namun komunikatif membuat kebijakannya relatif diterima luas oleh masyarakat.

Akademisi dan Tokoh Adat

Pasca menjabat sebagai wali kota, Fauzi Bahar tetap aktif mengabdi untuk bangsa. Sejak 2016, ia menjadi dosen pada Program Studi Manajemen Bencana, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan Indonesia.

Perannya di dunia akademik mempertegas komitmennya terhadap pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan mitigasi risiko.

Di ranah adat, Fauzi Bahar dipercaya menjabat sebagai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat periode 2021–2026.

Posisi ini semakin menegaskan perannya sebagai penjaga nilai adat dan budaya Minangkabau.

Kehidupan Pribadi dan Keteladanan
Dalam kehidupan pribadi, Fauzi Bahar membina rumah tangga bersama Dra. Hj. Mutiawati.

Dari keluarga inilah lahir generasi penerus yang mengikuti jejak pengabdian orang tuanya, baik di dunia militer maupun politik.

Bagi masyarakat Minangkabau, Fauzi Bahar menjadi simbol bahwa kepemimpinan yang kuat lahir dari keseimbangan antara iman, ilmu, dan disiplin.

Warisan Kepemimpinan

Kini, meski tak lagi menjabat sebagai kepala daerah, jejak kepemimpinan Fauzi Bahar masih terasa di Kota Padang.

Program-program religius, tata kelola sosial, serta pendekatan kepemimpinan yang ia bangun menjadi warisan penting dalam sejarah pembangunan kota.

Fauzi Bahar membuktikan bahwa pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun karakter, moral, dan identitas masyarakatnya.

Penulis: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.

Google News

Must Read

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini