Beranda DAERAH Inovasi Kunci Sukses di Era Revolusi Industri 4.0

Inovasi Kunci Sukses di Era Revolusi Industri 4.0

Industri
Era revolusi industri 4.0 menyebabkan terjadinya banyak perubahan terhadap hidup manusia, secara fundamental akan menyebabkan dampak yang besar pada dunia kerja.

Secara lebih spesifik tantangan industri 4.0 diantaranya adalah:

1. Tantangan ekonomi termasuk meningkatnya kebutuhan akan inovasi.

2. tantangan lingkungan termasuk di dalamnya perubahan pada iklim dan sumber daya yang membutuhkan motivasi, inovasi dan solusi untuk menjaga lingkungan keberlanjutan (Hecklau et.al., 2016).

BACA JUGA  Iptu. Fifin Sumailan Ringkus Dua Penculik Bocah di Palembang

Negara harus dapat merespon perubahan dengan cara melibatkan semua pihak yang berkepentingan, akademisi dan masyarakat sipil untuk mengelola tantangan industri 4.0 menjadi peluang bagi kehidupan berkelanjutan.

Salah satu upaya pemerintah merespon tantangan industri 4.0 melalui kebijakan pemerintah yaitu revitalisasi pendidikan kejuruan Indonesia. Gerakan yang direncanakan pemerintah diantaranya adalah gerakan literasi yaitu literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia.

Kemala Jeumpa.

Muatan pembelajaran yang diharapkan dapat disesuaikan dengan perubahan era 4.0 tersebut adalah:

BACA JUGA  Bareskrim Polri: Sebanyak 79 Akun Media Sosial Dapat Peringatan Virtual Police

1. Pembelajaran dan keterampilan berinovasi berupa kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan bermacam-macam, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, komunikasi dan kolaborasi, kreatifitas dan inovasi.

2. Keterampilan literasi digital berupa literasi informasi, literasi media, dan literasi Information and Communication Technologies (ICT).

3. Karir dan kecakapan berupa fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab (Trilling dan Fadel, 2009).

BACA JUGA  Tragedi Awal Bulan, 10 Korban Tertimbun Longsor di PLTA Batang Toru

Berdasarkan tuntutan dalam era revolusi industri maka menuntut manusia untuk mampu memanfaatkan setiap kesempatan, termasuk dalam hal ini dibutuhkan pengembangan keterampilan yang dapat bermanfaat di masa depan.

Terkait dengan salah satu muatan pembelajaran yang diharapkan pada era 4.0 yaitu keterampilan dalam berinovasi tersebut, mahasiswa sebagai generasi muda yang siap bersaing dan berperan di dalam masyarakat sangat diharapkan pengembangan keterampilannya ke arah inovasi.

Dalam hal ini, pengajar memiliki tanggung jawab untuk dapat mewujudkan pembelajaran ke arah pengembangan keterampilan berinovasi.

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, selain berperan sebagai pendidik, pengajar juga berperan sebagai ilmuwan yang mempunyai kewajiban mengembangkan keilmuan yang ditekuninya melalui penelitian, pengembangan gagasan dan ide ilmiah.

BACA JUGA  TNI Berduka, Praka Dedy Irawan Gugur Kontak Senjata Kelompok Mujahidin Indonesia Timur

Pengajar juga harus memberikan kontribusi yang nyata dalam pengembangan ipteks serta menyebarluaskannya. Ipteks yang dikembangkan oleh pengajar di dalam penelitiannya akan bermanfaat bagi pengembangan keilmuan peserta didik.

Oleh karena itu, harusnya para pengajar melakukan pembelajaran berdasarkan hasil riset sehingga peserta didik akan memperoleh ipteks yang terbaru.

Idealnya penelitian riset tidak hanya berakhir sebagai publikasi tetapi melainkan sebagai inovasi yang akan ditularkan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus tanggungjawab keilmuannya.

Pengajar yang melakukan pembelajaran berdasarkan hasil riset akan membantu peserta didik memperoleh ilmu dan pengetahuan baru serta keterampilannya berkembang sejalan dengan pengembangan ipteks.

BACA JUGA  Berantas Pungli dan Premanisme, Polda Kepri Tangkap Puluhan Preman

Peserta didik sangat memerlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya pada inovasi dalam upaya dapat berperan di dalam lingkungan dan masyarakat. Untuk mengakomodasi hal ini oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tersebut tercapai.

Untuk tujuan tersebut salah satunya dikembangkan model pembelajaran salah satunya adalah Model Pembelajaran Innovation Project Application (IPA).

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Kemala Jeumpa untuk meraih gelar doktor dari Fakultas Pendidikan dan Teknologi Universitas Negeri Padang di bawah bimbingan Prof. Selamat Triono, Ph.D dan Rusnardi Rahmat, Ph.D. Model pembelajaran IPA ini merupakan pengembangan dari model Pembelajaran Berbasis Project (PjBL) dan beririsan dengan lingkungan.

Sesuai dengan konsep pengembangan suatu model pembelajaran maka model pembelajaran IPA ini juga dilengkapi dengan lima konsep penting dalam model pembelajaran yaitu: sintak, prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung dan dampak pengiring.

BACA JUGA  Sosok Sujito, Mantan Calon Wali Kota Jadi Otak Penembakan Wartawan Media Online di Simalungun

Model IPA terdiri dari dua phase yaitu phase Perencanaan dan phase Produksi. Fase Perencanaan terdiri dari 3 langkah, yaitu:

(a) Rumusan masalah berdasarkan review pengetahuan dan observasi fenomena.

(b) Mempelajari inovasi Lapis Dinding Jeumpa dan penentuan alternatif inovasi yang sesuai untuk proyek.

(c) Rancangan pelaksanaan aplikasi proyek inovasi. Kemudian dilanjutkan ke Fase Produksi yang terdiri dari 4 langkah.

(d) Pengaplikasian proyek inovasi dan pengawasan.

(e) Pemaparan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh ke dalam bentuk tulisan.

(f) Presentase peserta didik.

(g) Penilaian dan evaluasi. Sedangkan untuk sistem pendukung dalam model IPA ini terdiri dari perangkat pembelajaran yaitu berupa: Buku Model, Buku Ajar, Buku Pedoman Dosen dan Buku Panduan Mahasiswa.

BACA JUGA  Polda Banten Berikan Bantuan Sembako Untuk Korban Banjir di Lebak Gedong

Agar model pembelajaran IPA ini selanjutnya dapat digunakan dalam pembelajaran maka harus dilakukan pengujian untuk membuktikan bahwa model ini valid, praktis dan efektif.

Dalam menguji validitas, praktikalitas dan efektifitas dari model pembelajaran IPA ini implementasinya dilakukan pada mahasiswa prodi D3 Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan pada pembelajaran Lapis Dinding Jeumpa dalam mata kuliah Fisika Bangunan.

Lapis Dinding Jeumpa ini merupakan hasil riset dari suatu inovasi lapis dinding dari sabut kelapa dalam rangka penghematan energi yang diaplikasikan sebagai project dalam pembelajaran.

Dari hasil pengujian model pembelajaran IPA diperoleh hasil valid, praktis dan efektif untuk dapat digunakan. Diharapkan model IPA ini dapat dimanfaatkan oleh para pengajar yang mengajar berdasarkan hasil risetnya.

Sumber: Kemala Jeumpa.

Facebook Comments