Radar Berita Indonesia – Proses evakuasi jenazah pendulang emas kembali diwarnai aksi kekerasan.
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melepaskan tembakan saat aparat gabungan TNI-Polri melakukan evakuasi jenazah di Bandara Nop Goliat, Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Jumat (11/4/2025).
Penembakan tersebut sempat menghambat proses enam evakuasi jenazah dari Kampung Bingki dan Muara Kum ke Dekai. Bahkan, terjadi kontak tembak antara KKB dan aparat keamanan di kawasan bandara. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Situasi di lokasi pencarian pendulang emas memang tidak ramai. Tapi di Bandara Dekai, sempat terjadi kontak tembak dengan KKB saat evakuasi jenazah,” ujar Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Ramadhani, Jumat sore.
Faizal menegaskan, aparat gabungan yang terdiri dari personel Marinir, Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), Satuan Brimob, dan Satgas Damai Cartenz telah mengamankan area bandara.
“Kami perketat pengamanan bandara karena helikopter lalu-lalang terus,” jelasnya.
Sehari sebelumnya, pada Kamis (10/4/2025), aparat gabungan telah berhasil mengevakuasi tiga jenazah pendulang emas. Dua jenazah dibawa ke Dekai, sementara satu lainnya dievakuasi ke Kabupaten Pegunungan Bintang.
Dengan tambahan enam jenazah pada Jumat, total jenazah yang berhasil dievakuasi selama dua hari berjumlah sembilan orang, delapan di Kabupaten Yahukimo dan satu di Kabupaten Pegunungan Bintang.
Aksi kekerasan terhadap para pendulang emas ini dilakukan oleh KKB pada Minggu (6/4/2025) dan Senin (7/4/2025), yang menyebabkan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang diduga melakukan aktivitas pendulangan emas secara tradisional.
Konflik Berkepanjangan di Ujung Timur Indonesia
Penyerangan terhadap pendulang emas di Kampung Bingki dan Muara Kum oleh KKB pada 6 dan 7 April 2025 menambah panjang daftar korban sipil dalam konflik bersenjata di Papua.
Dalam dua hari itu, sembilan warga dinyatakan tewas, seluruhnya terlibat dalam aktivitas pendulangan emas tradisional.
Motif penyerangan hingga kini masih belum terang. Namun, sejumlah sumber di lapangan menyebutkan bahwa aktivitas pendulangan emas kerap menjadi titik panas dalam konflik antara KKB dan negara.
“Ada dugaan KKB menolak keberadaan pendulang emas yang dianggap merusak wilayah adat, atau justru sebagai bentuk peringatan terhadap pihak-pihak yang bekerja sama dengan negara,” ujar seorang aktivis kemanusiaan di Yahukimo yang enggan disebutkan namanya.
Berdasarkan catatan organisasi sipil lokal, wilayah Pegunungan Bintang hingga Yahukimo sering menjadi lokasi penambangan emas skala kecil.
Beberapa dilakukan secara tradisional oleh warga, namun tidak sedikit yang terindikasi didukung oleh pihak luar yang membawa alat berat dan modal besar. Kondisi inilah yang kerap memicu konflik horizontal maupun vertikal di lapangan. (DP)


