
Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Posko 106 bersama anak-anak peserta Lentera Kisah usai pertunjukan wayang yang mengangkat cerita Malin Kundang di Balai Desa Wonosalam, Sabtu (22/8/2026)
Kelompok KKN MIT UIN Walisongo Posko 106 menghadirkan cerita rakyat Malin Kundang melalui pertunjukan wayang dalam program kerja bertajuk Lentera Kisah di Balai Desa Wonosalam, Sabtu (22/8/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 WIB tersebut ditujukan bagi anak-anak bimbingan belajar yang selama ini diajar oleh mahasiswa KKN.
Lentera Kisah menjadi salah satu program kerja KKN MIT UIN Walisongo Posko 106 yang dikemas dengan konsep mendongeng menggunakan media wayang. Melalui konsep tersebut, mahasiswa berupaya mengenalkan kembali cerita rakyat kepada anak-anak dengan cara yang lebih interaktif dan dekat dengan dunia mereka.
Cerita Malin Kundang dipilih sebagai kisah yang dibawakan dalam pertunjukan. Dalam pelaksanaannya, Rofi Al Husaini berperan sebagai dalang yang membawakan alur cerita sekaligus menggerakkan tokoh-tokoh wayang selama pertunjukan berlangsung.
Anak-anak yang hadir mengikuti cerita dengan antusias. Pertunjukan tidak hanya berfokus pada penyampaian cerita, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengingat dan menceritakan kembali kisah yang telah mereka saksikan.
Antusiasme terlihat ketika anak-anak diminta menceritakan kembali kisah Malin Kundang. Mereka tampak bersemangat mengikuti sesi tersebut, terlebih setelah panitia memberikan hadiah bagi anak-anak yang berani dan mampu menceritakan kembali isi cerita.
Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT UIN Walisongo Posko 106, Ahmad Zaky Maulvi, mengatakan Lentera Kisah dirancang agar kegiatan belajar cerita rakyat dapat berlangsung dengan suasana yang lebih menyenangkan bagi anak-anak.
“Melalui Lentera Kisah, kami ingin mengenalkan cerita rakyat kepada anak-anak dengan cara yang tidak monoton. Penggunaan wayang diharapkan dapat membuat mereka lebih tertarik mengikuti cerita sekaligus memahami pesan yang ada di dalamnya,” ujar Ahmad Zaky Maulvi.
Sementara itu, Rofi Al Husaini yang berperan sebagai dalang mengatakan penggunaan wayang menjadi bagian penting dalam membuat penyampaian cerita lebih menarik dan mudah diikuti oleh anak-anak.
“Kami mencoba membuat cerita Malin Kundang menjadi lebih hidup melalui wayang dan interaksi dengan anak-anak. Harapannya, mereka tidak hanya menonton, tetapi juga memahami dan mampu menceritakan kembali kisah yang telah disampaikan,” kata Rofi Al Husaini.
Lentera Kisah menjadi salah satu bentuk kegiatan edukatif KKN MIT UIN Walisongo Posko 106 yang memadukan pembelajaran, cerita rakyat, dan seni pertunjukan. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya diajak mengenal kisah Malin Kundang, tetapi juga didorong untuk berani mengingat dan menyampaikan kembali cerita yang mereka dengarkan.


