Radar Berita Indonesia – Masa tanggap darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Gunung Nago, Kota Padang, telah berakhir. Namun, perjuangan warga untuk bangkit dari dampak bencana masih terus berlangsung.
Pasca bencana banjir yang dipicu oleh tingginya intensitas hujan pada Kamis (8/1/2025) sore, kondisi di sejumlah wilayah terdampak perlahan mulai berangsur membaik.
Meski demikian, jejak kehancuran masih terlihat jelas, mulai dari rumah warga yang rusak, akses jalan yang terputus, hingga lahan pertanian yang tertimbun material longsor.
Banjir bandang terjadi akibat meningkatnya debit air secara drastis di kawasan Gunung Nago dan sekitarnya.
Sementara itu, kondisi tanah yang labil memicu longsor di beberapa titik perbukitan, memaksa warga menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
Evakuasi warga terdampak, pendataan kerusakan, serta penyaluran bantuan logistik menjadi prioritas utama.
Sejumlah posko darurat didirikan untuk memastikan kebutuhan dasar korban, seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan tetap terpenuhi.
Selain itu, alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor yang menutup akses jalan dan permukiman warga. Proses pembersihan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan, mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan.
Meski masa tanggap darurat telah usai, derita warga belum sepenuhnya berlalu. Di tengah keterbatasan bantuan, masyarakat menunjukkan keteguhan dan solidaritas dengan mendirikan posko-posko mandiri, salah satunya di Kelurahan Labung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Tanpa menunggu instruksi, warga bergotong royong mengumpulkan logistik, menyediakan tempat beristirahat, serta memastikan kebutuhan dasar para korban tetap terpenuhi.
Posko mandiri tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat singgah, tetapi juga menjadi simbol kekuatan, kebersamaan, dan harapan yang tumbuh dari kepedihan.
Semangat gotong royong masyarakat Gunung Nago menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan. Warga saling membantu membersihkan rumah, memperbaiki fasilitas umum, serta saling menguatkan agar kehidupan dapat kembali berjalan normal.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama bagi warga yang bermukim di kawasan rawan longsor dan bantaran sungai.
Edukasi kebencanaan serta upaya mitigasi terus disosialisasikan guna meminimalkan risiko di masa mendatang.
Pasca bencana banjir bandang ini, pemerintah juga menekankan pentingnya langkah pencegahan jangka panjang, seperti normalisasi aliran sungai, perbaikan sistem drainase, serta penataan kawasan perbukitan.
Dengan sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, proses pemulihan pasca bencana Gunung Nago diharapkan dapat berjalan optimal dan kehidupan warga segera pulih sepenuhnya.
Penulis: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.


