BerandaSULAWESI UTARAPuluhan Siswa di Tomohon Sakit Usai Makan MBG, Orang Tua Trauma dan...

Puluhan Siswa di Tomohon Sakit Usai Makan MBG, Orang Tua Trauma dan Desak Evaluasi Total

Radar Berita Indonesia – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan publik setelah puluhan siswa di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang disediakan sekolah.

Insiden ini menambah daftar kejadian serupa yang telah berulang sejak program tersebut mulai dijalankan pada 2025.

Peristiwa terbaru terjadi pada awal 2026. Sejumlah siswa mengalami gejala mual, muntah, dan sakit perut tak lama setelah mengikuti kegiatan makan bersama dalam program MBG.

Akibat kondisi tersebut, sebagian besar siswa harus dilarikan ke rumah sakit oleh orang tua mereka menggunakan kendaraan pribadi.

Kepanikan pun tak terhindarkan. Para orang tua mengaku trauma dan merasa tidak lagi tenang setiap kali anak-anak mereka mengikuti program makan gratis di sekolah.

“Kami bukan menolak program pemerintah. Tapi anak kami pulang sekolah dalam kondisi sakit. Itu trauma bagi kami sebagai orang tua,” ujar salah satu wali murid kepada Radar Berita Indonesia.

Insiden Berulang Sejak 2025

Kekhawatiran orang tua dinilai beralasan. Sejak MBG diluncurkan pada 2025, media mencatat beberapa kejadian gangguan kesehatan siswa di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Meski sebelumnya telah dilakukan inspeksi dan klarifikasi oleh instansi terkait, kejadian serupa kembali terulang.

Situasi ini memunculkan pertanyaan publik terhadap efektivitas pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), khususnya terkait standar dapur MBG, proses pengolahan dan distribusi makanan, serta jaminan keamanan pangan bagi siswa.

Hingga kini, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi mengenai penyebab pasti insiden tersebut, sekaligus langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Orang Tua Sampaikan Pernyataan Sikap
Menyikapi kondisi tersebut, orang tua siswa menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis.

Mereka menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan anak merupakan prioritas utama yang tidak dapat dikompromikan oleh target program apa pun.

Menurut mereka, ketika anak-anak jatuh sakit, mengalami ketakutan, bahkan trauma terhadap makanan sekolah, maka telah terjadi kegagalan serius dalam pelaksanaan kebijakan publik.

Selain dampak kesehatan, orang tua juga menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak. Sejumlah siswa kini mengaku takut mengonsumsi makanan di sekolah, sementara orang tua diliputi kecemasan setiap kali program MBG dijalankan.

Tuntut Evaluasi Menyeluruh dan Transparansi

Para orang tua menilai klarifikasi pascakejadian tidaklah cukup. Mereka mendesak pemerintah, khususnya kementerian terkait dan Badan Gizi Nasional (BGN), untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menuntut agar pemerintah:

– Menjamin seluruh dapur MBG memenuhi standar keamanan pangan nasional

– Melibatkan Dinas Kesehatan dan BPOM secara aktif dan berkala

– Menghentikan sementara pelaksanaan MBG di lokasi bermasalah hingga dinyatakan aman

– Menyampaikan hasil evaluasi kepada publik secara terbuka dan jujur

“Jangan kejar target program kalau anak-anak jadi korban. Keselamatan mereka harus diutamakan,” kata wali murid lainnya.

Pengamat: Kepercayaan Publik Terancam

Pengamat kebijakan publik menilai, apabila program MBG tetap dijalankan tanpa pembenahan serius, maka kepercayaan publik terhadap program tersebut berpotensi terus menurun.

Mereka menekankan pentingnya standar kelayakan dapur dan prosedur keamanan pangan yang ketat di seluruh titik pelaksanaan MBG.

Bukan Penolakan, Tapi Tuntutan Perlindungan Anak

Orang tua siswa menegaskan bahwa sikap mereka bukanlah bentuk penolakan terhadap Program Makanan Bergizi Gratis.

Sebaliknya, mereka mendukung upaya peningkatan gizi anak, namun menuntut agar program dijalankan secara aman, bertanggung jawab, dan mengutamakan perlindungan anak.

“Ketika anak-anak menjadi korban, diam bukan pilihan. Negara harus hadir lewat tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” tegas perwakilan orang tua.

Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait masih melakukan pendalaman. Masyarakat berharap insiden serupa tidak kembali terulang, mengingat dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik siswa, tetapi juga trauma psikologis bagi anak dan orang tua.

Keselamatan anak ditegaskan sebagai batas akhir setiap kebijakan publik.

Sumber: Robby Sigar
Editor: Maha Rajo Dirajo

Google News

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read