Padang, Radar Berita Indonesia – Untuk keempat kalinya, Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat kembali digelar. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini festival olahraga tradisional khas Minangkabau itu dipusatkan di Lapangan Sungai Bangek, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Festival Sipak Rago yang berlangsung selama tiga hari, dari 11 hingga 13 Juli 2025, secara resmi ditutup oleh Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, S.I.P., pada Minggu malam (13/7/2025).
Evi Yandri, yang dikenal sebagai tokoh peduli budaya Minangkabau, menyampaikan bahwa Festival Sipak Rago merupakan upaya nyata dalam melestarikan permainan tradisional anak nagari.
“Festival Sipak Rago merupakan agenda tahunan yang kini sudah memasuki edisi keempat. Tiga kali sebelumnya digelar di Nagari Pauh IX, Kecamatan Kuranji. Tahun ini, untuk pertama kalinya dipusatkan di Sungai Bangek, Kecamatan Koto Tangah, dan berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi, tapi juga sarana mempererat tali silaturahmi antar anak nagari, sekaligus mengarahkan generasi muda pada kegiatan positif dan menjauhkan dari pengaruh buruk seperti narkoba, pergaulan bebas, serta LGBT.
Suba FC Juara, Raih Trofi Bergilir dan Rp12,5 Juta
Festival tahun ini memunculkan tim Suba FC sebagai juara pertama. Tim yang berasal dari Sungai Bangek tersebut berhak membawa pulang hadiah uang tunai sebesar Rp12,5 juta, serta trofi tetap dan piala bergilir Evi Yandri Rajo Budiman IV.
Peringkat kedua diraih oleh tim Pacah Lapan yang membawa hadiah Rp10 juta, disusul tim Jilujua di posisi ketiga dengan hadiah Rp7,5 juta. Tim Baringin Tabek menduduki peringkat keempat dan membawa pulang Rp4 juta, sementara posisi kelima ditempati tim Kasang Saiyo.
Potensi Wisata dan Ekonomi Lokal
Evi Yandri juga menyoroti potensi besar kawasan Sungai Bangek sebagai destinasi wisata. Menurutnya, kekayaan alam dan potensi agro wisata di kawasan tersebut dapat dikembangkan lebih jauh melalui kegiatan budaya seperti Festival Sipak Rago.
“Kegiatan seperti ini bisa dikemas lebih menarik agar mampu memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Jika dikelola dengan baik, potensi wisata Sungai Bangek akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi lokal,” tutupnya.
Sipak Rago: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan yang Menghidupkan Nagari
Sorak sorai memenuhi Lapangan Sungai Bangek ketika final Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat 2025 memasuki babak penentuan.
Bola rotan beterbangan, kaki para pemain lincah menari di udara, dan semangat persaudaraan menyelimuti para penonton yang datang dari berbagai penjuru ranah Minang.
Di tengah semangat kompetisi, ada nuansa yang lebih dalam dari sekadar perebutan gelar juara. Festival ini adalah bentuk nyata kecintaan pada warisan leluhu – olahraga tradisional yang dulunya dimainkan di halaman surau atau tengah sawah, kini bangkit kembali menjadi simbol identitas dan kekuatan budaya.
Melampaui Sekat Generasi
Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, tak hanya hadir sebagai pejabat, tapi juga sebagai anak nagari yang ingin memastikan budaya ini terus hidup di tengah zaman yang berubah cepat.
“Kita tidak hanya mempertandingkan keterampilan kaki dan bola rotan. Kita sedang menyambung ingatan, mengikat silaturahmi, dan menyelamatkan warisan yang nyaris dilupakan,” ungkapnya usai menyerahkan piala bergilir.
Bagi Evi Yandri, Sipak Rago adalah medium untuk membentuk karakter anak muda. “Ketika mereka berkumpul di lapangan untuk berlatih, mereka jauh dari bahaya narkoba, pergaulan bebas, dan pengaruh negatif lainnya,” tegasnya.
Denyut Ekonomi dari Tradisi
Festival ini tak hanya menjadi panggung budaya, tetapi juga denyut ekonomi masyarakat sekitar. Penjual makanan khas Minang, minuman tradisional, hingga pelaku UMKM lokal memadati area sekitar lapangan. Seolah budaya, pariwisata, dan ekonomi menemukan titik temu dalam satu ajang.
“Saya harap ini bisa menjadi langkah awal menjadikan Sungai Bangek sebagai kawasan wisata budaya dan agro wisata,” tutur Evi Yandri.
Ia juga menyebut perlunya keterlibatan pemerintah kota dan provinsi dalam memfasilitasi pengembangan infrastruktur pendukung.
Juara yang Tumbuh dari Tanah Sendiri
Suba FC yang keluar sebagai juara adalah cermin keberhasilan pembinaan lokal. Tim muda ini tumbuh dari Sungai Bangek, berlatih di tanah yang sama tempat festival ini digelar.
“Kami bangga. Ini bukan hanya kemenangan tim, tapi kemenangan kampung kami,” ujar salah satu pemain Suba FC, dengan mata berbinar penuh haru.
Menatap Masa Depan dengan Akar Budaya
Empat edisi Festival Sipak Rago telah berlangsung, namun semangatnya terus tumbuh. Tahun ini menjadi bukti bahwa olahraga tradisional bukanlah milik masa lalu semata.
Ia bisa menjadi jembatan lintas zaman, menyatukan nilai budaya, ekonomi, dan harapan masa depan.
Jika Sungai Bangek bisa menjadi contoh, maka nagari-nagari lain pun punya peluang yang sama merawat tradisi sambil melangkah ke depan.
Editor: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.


