Radar Berita Indonesia – Banjir bandang dahsyat menerjang sejumlah wilayah di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA.
Bencana alam ini menelan korban jiwa, menyebabkan warga hilang, serta merusak infrastruktur vital di beberapa kecamatan.
Berdasarkan laporan resmi dari Puskesmas Pulusiau, hingga pukul 03.10 WITA tercatat enam warga meninggal dunia akibat terjangan banjir bandang.
Para korban banjir bandang terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan, termasuk seorang anak laki-laki berusia sekitar satu tahun. Seluruh jenazah saat ini berada di ruang penanganan Puskesmas Pulusiau untuk proses lebih lanjut.
Selain korban meninggal, dua orang warga dilaporkan selamat, masing-masing seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya saat ini masih menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Pulusiau.
Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, seluruh korban banjir berasal dari Kelurahan Bahu Sondang, Kecamatan Siau Timur.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warga masih dinyatakan hilang. Tim gabungan yang terdiri dari aparat pemerintah daerah, TNI-Polri, tenaga kesehatan, serta relawan bersama masyarakat setempat terus melakukan pencarian intensif di lokasi terdampak, meskipun dihadapkan pada kondisi medan yang sulit dan cuaca yang belum sepenuhnya membaik.
Banjir bandang juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Siau Barat, di antaranya Paseng, Bumbiha, Pelingsawang, Peling, dan Batu Senggol.
Dampak bencana banjir bandang ini menyebabkan terputusnya akses jalan dan jembatan, sehingga menghambat mobilitas warga serta distribusi bantuan logistik dan evakuasi korban.
Sementara itu, untuk wilayah Siau Timur, khususnya jalur Ondong-Ulu, dilaporkan masih dapat dilalui dan tidak mengalami gangguan berarti. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sebagai bentuk respons cepat, Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sitaro turun langsung ke lokasi bencana untuk meninjau kondisi lapangan serta memastikan penanganan darurat berjalan optimal.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, mengingat intensitas curah hujan di wilayah tersebut masih tergolong tinggi dan berisiko memicu bencana susulan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini terus melakukan penanganan darurat, pendataan korban, serta upaya pemulihan akses infrastruktur yang terdampak, guna mempercepat proses bantuan kemanusiaan kepada warga.
“Doa dan solidaritas seluruh masyarakat sangat dibutuhkan dalam situasi duka ini. Semoga para korban diberikan kekuatan, dan proses pencarian warga yang hilang dapat segera membuahkan hasil terbaik,” ujar Ketua DPRD Sitaro dalam keterangannya.
Di tengah upaya pencarian korban hilang, kondisi lapangan di sejumlah titik terdampak masih tergolong rawan dan sulit diakses.
Material lumpur, bebatuan, serta kayu besar yang terbawa arus banjir bandang menutup permukiman warga dan badan jalan. Beberapa rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat, bahkan ada yang hanyut terseret arus deras.
Warga yang selamat terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti rumah kerabat, fasilitas umum, serta pos darurat yang disiapkan pemerintah daerah.
Keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi di beberapa wilayah terdampak turut menyulitkan proses koordinasi dan evakuasi.
Tim gabungan terus berupaya membuka akses yang tertutup dengan alat seadanya sambil menunggu dukungan alat berat.
Fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban, pencarian warga hilang, serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan selimut.
Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sitaro dalam peninjauannya menegaskan pentingnya respon cepat dan terkoordinasi agar dampak bencana tidak semakin meluas.
Ia juga mendorong seluruh pihak, baik pemerintah, relawan, maupun elemen masyarakat, untuk bersatu dalam upaya kemanusiaan.
“Kita harus bergerak cepat dan solid. Keselamatan warga adalah prioritas utama. Pemerintah daerah akan memastikan seluruh korban terdampak mendapatkan perhatian dan bantuan yang layak,” tegasnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro terus melakukan pendataan kerusakan serta memantau perkembangan cuaca.
Masyarakat di wilayah rawan aliran sungai dan lereng perbukitan diimbau untuk tetap waspada dan segera mengungsi jika terjadi peningkatan debit air atau hujan dengan intensitas tinggi.
Hingga saat ini, situasi di Pulau Siau masih berada dalam status siaga darurat bencana. Pemerintah daerah membuka ruang bagi partisipasi dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa logistik maupun dukungan relawan, guna mempercepat proses pemulihan pascabencana.
Harapan besar disematkan agar seluruh warga yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Di tengah duka yang menyelimuti, semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Siau menjadi kekuatan utama untuk bangkit dari bencana ini.
Sumber: Roby Sigar.
Editor: Maha Rajo Dirajo.


