BerandaRadar Berita IndonesiaPEMERINTAHEra Baru Geothermal: Pertamina Geothermal Energy Bidik 3.000 MW, Lampaui Filipina dan...

Era Baru Geothermal: Pertamina Geothermal Energy Bidik 3.000 MW, Lampaui Filipina dan Dekati AS

Jakarta, Radar Berita Indonesia – Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan potensi energi panas bumi (geothermal) terbesar di dunia, akhirnya menemukan cara realistis untuk menggarap sumber energi ramah lingkungan tersebut.

Sosok di balik terobosan ini adalah Julfi Hadi, Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy (PGE), anak usaha Pertamina yang mengelola panas bumi nasional.

Julfi lahir di Swedia, bersekolah berpindah-pindah di berbagai negara, hingga menamatkan studi geologi di Universitas Texas, El Paso, Amerika Serikat. Meski demikian, darah dan identitasnya tetap kuat sebagai orang Minang.

“Saya seratus persen Minang,” tegasnya.

Kedua orang tuanya Minang, istrinya Minang, bahkan namanya pun sangat Minang Julfi Hadi.

Indonesia menyimpan potensi panas bumi sekitar 25.000 MW, terbesar di dunia. Namun, kapasitas terpasang yang sudah berhasil dikonversi menjadi listrik baru mencapai 2.400 MW.

Padahal geothermal dikenal sebagai energi hijau paling murni, lebih murah dari solar cell, dan bisa beroperasi sepanjang masa tanpa perlu membeli bahan baku.

Kendala utama selama ini adalah mahalnya investasi: sekitar USD 6 juta per MW.

Karena itu, meski Indonesia sudah memulai panas bumi sejak 1983 melalui proyek Kamojang di Jawa Barat, perkembangan selama 40 tahun masih terbatas.

Kamojang yang berada di jalur Garut–Bandung hanya menghasilkan 235 MW, terakhir dikembangkan pada 2010 dan rampung pada 2015.

Strategi Staging: Terobosan Julfi Hadi

Julfi menemukan solusi dengan teknik staging atau pengerjaan bertahap.

Tidak langsung membangun kapasitas penuh, melainkan dimulai dari skala kecil agar proyek segera berjalan dan menghasilkan arus kas.

Contoh nyata ada di Seulawah, Aceh, dengan potensi 320 MW. Alih-alih menunggu investasi raksasa, PGE akan memulai dari 30 MW terlebih dahulu.

Pengeboran pertama dijadwalkan Desember mendatang. Padahal, proyek ini sudah mangkrak selama hampir 40 tahun dan terakhir gagal karena pendana dari Jerman, WKF, mundur 10 tahun lalu.

Langkah serupa diterapkan di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dari potensi 30 MW, tahap awal hanya dibangun 15 MW.

Dengan strategi ini, PGE tahun ini harus menghimpun dana sekitar Rp 4,5 triliun. Tahun depan, tiga proyek geothermal lain di Sumbagsel dan Jawa Barat akan menambah kebutuhan modal Rp 5 triliun.

Namun Julfi menegaskan, biaya investasi berhasil ditekan menjadi USD 5 juta per MW, sehingga lebih efisien dibanding sebelumnya.

Dukungan Pemerintah Prabowo dan Peran Danantara

Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, proyek geothermal mendapatkan angin segar.

Swasembada energi menjadi prioritas nasional, sehingga peluang pendanaan negara maupun lembaga investasi seperti Danantara terbuka lebar.

Geothermal dianggap sebagai proyek energi yang komplit: ramah lingkungan, kebutuhan masyarakat nyata, dan hitungan bisnis jelas.

Julfi menyebut, “Dengan staging, cash flow perusahaan lebih sehat dan proyek baru bisa segera bergulir.”

Hambatan Internal: PLN vs Pertamina

Meski dana besar menjadi tantangan, hambatan terbesar justru ada di level koordinasi antar-BUMN.

Pertamina sebagai penjual listrik ingin harga tinggi, sementara PLN sebagai pembeli ingin harga serendah mungkin.

Tarik-ulur ini membuat negosiasi berlarut-larut bertahun-tahun, bak “musuh dalam selimut”.

Salah satu solusi yang diusulkan adalah intervensi langsung dari atasan, misalnya Danantara, agar kesepakatan harga bisa diputuskan tanpa bertele-tele. Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berkata, “Gitu saja kok repot.”

Menuju Juara Dunia Geothermal

Saat ini, kapasitas geothermal PGE baru 770 MW. Target jangka pendek dua tahun ke depan adalah 1.000 MW, dengan visi besar mencapai 3.000 MW.

Jika tercapai, Indonesia berpeluang melampaui Filipina (1.900 MW) dan mendekati posisi juara dunia yang kini dipegang Amerika Serikat (3.400 MW).

Ditambah kapasitas milik swasta, Indonesia bisa mencapai total 3.450 MW.

“Target kami 3.000 MW bisa tercapai,” kata Julfi optimistis.

Dengan strategi baru ini, Indonesia akhirnya melihat cahaya terang panas bumi setelah empat dekade stagnasi.

Jika proyek-proyek geothermal ini terus berjalan, Indonesia bukan hanya bisa menjadi raksasa energi hijau dunia, tetapi juga memastikan ketahanan energi nasional di era transisi menuju energi bersih.

Google News

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read