BerandaINTERNASIONALBanjir Bandang dan Longsor Nepal Tewaskan 162 Orang, Ratusan Warga Masih Hilang

Banjir Bandang dan Longsor Nepal Tewaskan 162 Orang, Ratusan Warga Masih Hilang

Radar Berita Indonesia – Sedikitnya 162 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Nepal pada Rabu (26/8/2026). Sekitar 403 orang dari berbagai negara juga dilaporkan masih belum ditemukan.

Bencana tersebut menjadi salah satu tragedi terburuk yang melanda Nepal dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah distrik di wilayah hilir, terutama kawasan yang berada di sepanjang perbatasan Nepal-China, terdampak banjir bandang dan longsor dengan skala besar.

Pejabat setempat menyatakan bencana menyebabkan kerusakan besar terhadap permukiman dan infrastruktur. Namun, hingga kini belum tersedia data menyeluruh mengenai total kerugian material akibat bencana tersebut.

Kesaksian para penyintas menggambarkan dahsyatnya bencana yang terjadi dalam waktu singkat.

Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, mengatakan sejumlah anggota keluarganya tersapu banjir bandang dan longsor di depan matanya. Ayah, ibu, saudara perempuan, serta anak-anak dari saudara perempuannya menjadi korban.

“Mereka tidak bisa melarikan diri dari banjir bandang. Tidak ada kesempatan sama sekali,” ujar Kalpana.

Ia bersama putranya berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat atap rumah. Namun, Kalpana mengaku masih sulit memahami bagaimana keduanya dapat bertahan dari terjangan banjir.

“Banjir bandang ini merenggut segalanya,” katanya.

Kesaksian serupa disampaikan Keshav Prasad Baral, 68 tahun, salah seorang penyintas yang kini menjalani perawatan di rumah sakit. Ia menggambarkan banjir di kawasan perbatasan Nepal-Tibet seperti semburan lumpur besar yang datang secara tiba-tiba.

Keshav mengatakan air terus meninggi sebelum akhirnya memasuki rumahnya. Saat berusaha menyelamatkan diri, ia sempat meraih tangan istrinya. Namun, istrinya tersapu arus banjir dan longsor.

Sekitar empat hingga lima jam kemudian, Keshav berhasil dievakuasi menggunakan helikopter. Sementara istrinya hingga kini tidak ditemukan dan diduga tertimbun material longsor.

WNI di Nepal Dipastikan Aman

Bencana tersebut juga mendapat perhatian pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri RI mencatat terdapat 45 warga negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Kathmandu, Nepal. Sebagian besar bekerja di sektor perhotelan.

Hingga informasi ini dipublikasikan, belum terdapat laporan mengenai WNI yang menjadi korban atau terdampak langsung banjir dan longsor tersebut.

Perwakilan Indonesia di Dhaka dan Beijing masih melakukan koordinasi untuk memastikan kondisi seluruh WNI, termasuk menelusuri kemungkinan adanya warga negara Indonesia yang sedang melakukan pendakian atau berada di sekitar wilayah terdampak.

Sementara itu, Badan Pariwisata Nepal menyebut warga dari sejumlah negara turut masuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Mereka antara lain 100 warga India, 54 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris.

Kementerian Luar Negeri Ukraina juga menyatakan terdapat 53 warga Ukraina yang berada di kawasan perbatasan Nepal-Tibet.

Penyebab Bencana Masih Ditelusuri

Banjir bandang dan longsor tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pemicu utama bencana. Kondisi geografis kawasan Himalaya yang terjal dan sulit dijangkau membuat proses investigasi tidak mudah dilakukan.

Pada awalnya, otoritas setempat sempat menduga aktivitas gempa bumi sebagai salah satu faktor pemicu bencana. Namun, analisis Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak terdapat gempa bumi di sekitar Nepal yang dapat menjelaskan aktivitas seismik yang terdeteksi.

USGS menyebut gelombang seismik yang tercatat justru berkaitan dengan aktivitas tanah longsor.

“Analisis tambahan terhadap gelombang seismik periode panjang menunjukkan bahwa energi seismik tersebut justru dihasilkan oleh tanah longsor,” demikian keterangan USGS.

Informasi dari pejabat Departemen Meteorologi dan Hidrologi Nepal yang disampaikan kepada BBC juga mengarah pada kemungkinan adanya runtuhan material dari kawasan pegunungan di sisi Tibet.

Sejumlah gambar yang dianalisis pejabat setempat menunjukkan bongkahan es berukuran besar yang diduga merupakan bagian dari gletser runtuh dari sebuah gunung. Material tersebut kemudian membawa batuan dan sedimen dalam jumlah besar.

Runtuhan es, batu, dan sedimen itu diduga menghasilkan aliran material yang kemudian membentuk bendungan alami di Sungai Lhende. Bendungan tersebut sempat menghambat aliran air.

Namun, ketika bendungan alami itu akhirnya jebol, volume air dan material yang tertahan diduga mengalir deras ke wilayah hilir. Kondisi tersebut kemudian memperparah banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan permukiman.

Hingga kini, proses pencarian dan penyelamatan masih menjadi prioritas. Otoritas Nepal bersama tim penyelamat terus berupaya menemukan warga yang hilang sekaligus mengevakuasi masyarakat dari kawasan yang masih berisiko terkena banjir susulan dan longsor. (*)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read