Radar Berita Indonesia – Susur sungai bukan sekadar kegiatan menyusuri aliran sungai atau aktivitas lapangan biasa.
Kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana untuk mengetahui kondisi alur sungai, mengidentifikasi potensi ancaman di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi.
Menurut Akmal, insan SAR/bencana, susur sungai perlu dipandang sebagai bentuk investigasi lapangan untuk membaca kondisi sungai secara langsung sebelum potensi bencana terjadi.
Melalui kegiatan tersebut, berbagai persoalan yang tidak selalu terlihat dari permukaan maupun citra satelit dapat ditemukan secara langsung, mulai dari penyumbatan aliran, longsoran tebing, sedimentasi, material kayu, kerusakan infrastruktur hingga indikasi kerusakan lingkungan di kawasan hulu.
“Susur sungai bukan sekadar jalan-jalan di sungai, tetapi bagian dari upaya membaca kesehatan sungai sebelum bencana datang,” demikian pandangan Akmal.
Sedikitnya terdapat tujuh manfaat penting susur sungai yang dapat menjadi perhatian pemerintah, masyarakat, komunitas kebencanaan, relawan maupun pihak terkait lainnya.
1. Mengetahui Kondisi Alur Sungai dan Hambatan Aliran
Manfaat pertama adalah mengetahui secara langsung kondisi alur sungai dan berbagai hambatan yang dapat mengganggu kelancaran aliran air.
Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk mengetahui apakah aliran sungai masih berjalan normal atau terdapat penyumbatan akibat material longsoran, kayu gelondongan, batu berukuran besar, sedimentasi, sampah, maupun penyempitan badan sungai.
Kondisi tersebut penting dicatat dan didokumentasikan karena hambatan pada alur sungai dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika debit air meningkat.
Dengan mengetahui kondisi tersebut lebih awal, pemerintah dan masyarakat dapat menentukan langkah penanganan sesuai tingkat ancamannya.
2. Meningkatkan Edukasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Susur sungai juga dapat menjadi sarana edukasi langsung kepada masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai maupun kawasan hilir.
Masyarakat perlu memahami bahwa perubahan kondisi sungai dapat menjadi salah satu informasi awal yang harus diwaspadai ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain perubahan warna air menjadi cokelat pekat, kenaikan debit air secara tiba-tiba, suara gemuruh dari arah hulu, serta munculnya material seperti kayu dan batu yang terbawa arus.
Dalam kondisi tertentu, perubahan debit air secara mendadak, termasuk surut atau berkurangnya aliran secara tidak lazim, juga perlu mendapat perhatian dan segera dilaporkan kepada pihak terkait.
Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menunggu informasi resmi, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan kewaspadaan dan evakuasi mandiri apabila situasi benar-benar mengharuskan.
3. Menjadi Data Lapangan untuk Mitigasi Bencana
Hasil susur sungai dapat menjadi bahan pendukung bagi pengambil kebijakan dalam menyusun program mitigasi bencana.
Data lapangan berupa dokumentasi foto, video, titik lokasi, kondisi tebing, hambatan aliran dan kerusakan infrastruktur dapat memberikan gambaran faktual mengenai kondisi sungai pada saat dilakukan pemeriksaan.
Data tersebut dapat digunakan sebagai bahan koordinasi oleh pemerintah daerah dan instansi terkait, seperti BPBD, Dinas PUPR, TNI/Polri, Basarnas, akademisi, praktisi, organisasi kemasyarakatan maupun lembaga lainnya.
Dari hasil pemetaan dan kajian tersebut, langkah mitigasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, seperti penanganan sedimentasi, pembangunan atau perbaikan sabo dam/check dam, penguatan tebing, perbaikan infrastruktur pengendali air, penyediaan jalur evakuasi hingga pemetaan kawasan yang memiliki potensi risiko bencana.
Namun, setiap tindakan teknis tetap membutuhkan kajian dan kewenangan instansi yang kompeten agar penanganannya tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru.
4. Memetakan Titik Rawan Bencana yang Baru
Kawasan hulu sungai tidak selalu mudah dipantau dari permukiman maupun melalui pengamatan dari kejauhan.
Susur sungai dapat membantu menemukan lokasi yang mengalami perubahan, seperti longsoran baru, retakan tebing, runtuhan material, penyempitan alur atau titik-titik yang berpotensi menjadi sumber material ketika terjadi hujan deras.
Temuan tersebut menjadi penting karena kondisi di bagian hulu dapat memberikan informasi mengenai potensi ancaman yang mungkin berdampak ke wilayah hilir.
Karena itu, pemetaan titik rawan tidak semestinya hanya dilakukan setelah terjadi bencana. Pemeriksaan secara berkala dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pengurangan risiko.
5. Memeriksa Kondisi Infrastruktur Keairan
Susur sungai juga dapat dimanfaatkan untuk melihat kondisi berbagai infrastruktur yang berada di sekitar aliran sungai.
Jembatan, bronjong, tanggul, bendung dan bangunan pengendali air perlu diperiksa secara berkala untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan, erosi, keropos atau perubahan struktur yang dapat mengurangi fungsi bangunan tersebut.
Pemeriksaan lapangan menjadi penting terutama setelah terjadi hujan ekstrem, banjir atau longsor.
Apabila ditemukan kerusakan, informasi tersebut dapat segera diteruskan kepada instansi yang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan teknis dan menentukan tindakan perbaikan.
6. Menilai Kerusakan Lingkungan di Daerah Aliran Sungai
Persoalan sungai tidak hanya berkaitan dengan aliran air, tetapi juga kondisi lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai.
Susur sungai dapat membantu mengidentifikasi perubahan tutupan lahan, erosi, kerusakan vegetasi, pembukaan lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memengaruhi kondisi DAS.
Akmal menilai pengawasan kawasan hulu penting dilakukan karena kondisi lingkungan di wilayah tersebut memiliki keterkaitan dengan tata air dan stabilitas kawasan.
Apabila ditemukan dugaan aktivitas ilegal, seperti pembalakan liar atau penambangan tanpa izin, temuan tersebut perlu didokumentasikan dan dilaporkan kepada instansi berwenang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan demikian, susur sungai bukan hanya berbicara mengenai sungai, tetapi juga mengenai bagaimana manusia memperlakukan lingkungan di sekitarnya.
7. Membangun Kebersamaan dan Kepedulian terhadap Sungai
Manfaat lainnya adalah membangun kepedulian bersama.
Kegiatan susur sungai yang melibatkan BPBD, TNI/Polri, relawan, pemerintah desa atau kelurahan, komunitas, serta masyarakat dapat menjadi ruang edukasi dan koordinasi dalam menghadapi risiko bencana.
Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena warga yang tinggal paling dekat dengan sungai merupakan pihak yang dapat melakukan pengamatan awal terhadap perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Dari kegiatan tersebut diharapkan muncul kesadaran bahwa sungai bukan tempat membuang sampah, melainkan bagian penting dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.
Susur Sungai sebagai Upaya Preventif
Menurut Akmal, susur sungai merupakan salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mengenali potensi ancaman sebelum berkembang menjadi bencana.
Namun, kegiatan tersebut tetap harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan. Susur sungai tidak boleh dilakukan secara sembarangan, terutama ketika debit air meningkat, cuaca buruk, atau terdapat tanda-tanda kondisi sungai yang membahayakan.
Keselamatan personel harus menjadi prioritas. Kegiatan lapangan juga idealnya dilengkapi dengan perencanaan, komunikasi, pemetaan lokasi, peralatan keselamatan dan koordinasi dengan pihak yang memiliki kompetensi di bidang kebencanaan.
Pada akhirnya, pencegahan membutuhkan informasi dan kesiapsiagaan.
Lebih baik kondisi sungai diperiksa ketika cuaca memungkinkan, potensi ancaman dipetakan lebih awal, dan masyarakat diberi edukasi sebelum bencana terjadi.
Sebab, ketika hujan deras turun dan banjir bandang datang, ruang untuk mengambil keputusan dapat menjadi jauh lebih sempit.
Susur sungai bukan sekadar menyusuri aliran air. Ia adalah upaya melihat, mencatat, memetakan dan memahami potensi ancaman agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terlambat.
Sumber: Akmal – Insan SAR/Bencana
Editor: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo


