BerandaSEJARAHEvi Yandri Fasilitasi Turnamen Sipak Rago, Wagub Vasko Ruseimy Buka Secara Resmi

Evi Yandri Fasilitasi Turnamen Sipak Rago, Wagub Vasko Ruseimy Buka Secara Resmi

Radar Berita Indonesia – Untuk keempat kalinya, Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat kembali digelar. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini festival olahraga tradisional khas Minangkabau tersebut dipusatkan di Lapangan Sungai Bangek, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.

Festival Sipak Rago yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 11–13 Juli 2025, dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Uda Vasko Ruseimy, Jum’at (11/7/2025). Turut hadir Camat Koto Tangah Fizlan Setiawan, Tokoh Adat, Tokoh masyarakat, RT dan RW.

“Sejak selepas magrib, warga sudah menyemut untuk menyaksikan pembukaan. Bahkan sejak sore, tim-tim peserta sudah mulai berlaga,” ujar Ed Datuak, warga setempat yang juga berdagang di sekitar arena pertandingan.

Sebanyak 35 tim dari berbagai kabupaten/kota ambil bagian dalam turnamen ini, termasuk dari Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, dan Solok. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp 39 juta.

Festival ini merupakan realisasi dari Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) Evi Yandri Rajo Budiman dan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Selain pertandingan, acara juga diramaikan dengan penampilan kesenian tradisional dan bazar UMKM lokal.

Wagub Sumbar Apresiasi Pelestarian Budaya Minang Lewat Sipak Rago

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mengapresiasi Festival Sipak Rago sebagai bentuk nyata pelestarian budaya Minangkabau yang sarat nilai-nilai kearifan lokal.

“Festival ini bukan hanya soal kompetisi olahraga, tetapi juga bagian penting dalam merawat warisan budaya kita. Sipak Rago adalah identitas leluhur yang harus kita lestarikan dan wariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran aktif Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, dalam mendorong kegiatan kebudayaan melalui dana pokok-pokok pikiran (Pokir).

“Melalui tangan dingin Bapak Evi Yandri, energi positif budaya Minangkabau terus mengalir. Saya melihat banyak kegiatan budaya yang diinisiasi dan didukung beliau secara konsisten,” tambah Vasko.

Evi Yandri: Sipak Rago adalah Silat Terselubung Zaman Penjajahan

Sementara itu, Evi Yandri Rajo Budiman mengungkapkan bahwa Sipak Rago sejatinya memiliki akar sejarah yang kuat sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.

“Dulu, pada masa penjajahan, generasi muda dilarang belajar bela diri, terutama silat. Untuk menyiasati larangan itu, diciptakanlah permainan bola dari anyaman. Di depan penjajah terlihat seperti olahraga biasa, padahal sebenarnya berisi gerakan silat,” jelasnya.

Menurut Evi, Sipak Rago adalah bentuk bela diri terselubung yang diramu dalam permainan rakyat, demi menjaga semangat juang dan keterampilan generasi muda saat itu.

Namun ia menyayangkan, seiring berjalannya waktu, olahraga ini semakin kurang dikenal masyarakat. Saat ini, hanya dua daerah yang masih mempertahankan tradisi tersebut Kota Padang dan Padang Pariaman.

“Mirisnya, dari 19 kabupaten/kota di Sumbar, hanya dua yang mengenal dan melestarikan Sipak Rago. Karena itu, dukungan melalui Pokir adalah bentuk komitmen saya terhadap pelestarian budaya Minangkabau,” ujarnya di hadapan Wakil Gubernur dan masyarakat.

“Budaya Minang jangan hanya jadi cerita, tapi harus hidup dan hadir dalam praktik nyata di tengah masyarakat, seperti melalui turnamen Sipak Rago ini,” pungkas Evi Yandri, yang juga dikenal sebagai sipangka atau tokoh budaya di komunitasnya.

Antusiasme Tinggi Warnai Pertandingan

Sejak pagi hari, ratusan warga telah memadati area Sungai Bangek untuk menyaksikan laga perdana. Teriakan semangat dan tepuk tangan menggema di sekitar lapangan, menciptakan suasana yang meriah dan penuh antusiasme.

Roni (23), salah satu peserta, mengaku bangga bisa tampil di ajang ini.

“Kami sudah latihan sebulan lebih untuk turnamen ini. Selain mengejar juara, kami juga ingin memperkenalkan Sipak Rago ke daerah kami yang belum terlalu mengenal permainan ini,” tuturnya.

Panitia yang juga melibatkan pemuda lokal terlihat sigap mengatur arus kendaraan di sekitar lokasi untuk menghindari kemacetan.

Di sisi lain, stan-stan bazar UMKM yang menyajikan aneka kuliner khas Minang, kerajinan, dan busana adat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Dukung Penguatan Pariwisata Budaya

Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar menekankan pentingnya sinergi antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat dalam pelestarian budaya.

“Festival ini bukan sekadar olahraga, tapi juga sarana membangun jati diri dan daya tarik wisata. Kami akan terus mendorong penyelenggaraan event-event budaya berbasis komunitas seperti ini,” ujarnya.

Festival ini dijadwalkan akan ditutup pada Minggu (13/7) dengan final pertandingan Sipak Rago dan pertunjukan seni Minangkabau.

Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. (DP/Adh)

Google News

Must Read

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini