Radar Berita Indonesia – Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan dampak kemanusiaan yang cukup besar. Hingga Selasa (18/8/2026) pukul 09.00 Wita, sebanyak 69 orang dilaporkan meninggal dunia, 331 orang mengalami luka-luka, dan 34.689 warga terpaksa mengungsi.
Data tersebut berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT yang disampaikan Analis Kebijakan BPBD NTT, Richard Pelt.
“Total ini berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026),” ujar Richard.
Korban Terbanyak di Manggarai
Richard menjelaskan, korban meninggal dunia tersebar di sejumlah kabupaten yang terdampak gempa. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 26 orang.
Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebanyak 25 orang, Nagekeo sebanyak 8 orang, Sikka 4 orang, sementara Manggarai Barat, Ende, dan Ngada masing-masing tercatat 2 orang meninggal dunia.
Selain korban jiwa, sebanyak 331 orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Proses penanganan dan pendataan korban masih dilakukan oleh pemerintah bersama unsur terkait di sejumlah wilayah terdampak.
Belasan Ribu Rumah Mengalami Kerusakan
Dampak gempa juga menyebabkan kerusakan pada ribuan bangunan rumah warga. BPBD NTT mencatat sedikitnya 19.297 rumah terdampak di Flores dan wilayah sekitarnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.463 rumah mengalami rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga menyasar berbagai fasilitas publik yang menjadi kebutuhan masyarakat.
BPBD NTT mencatat sebanyak 658 satuan pendidikan, 172 fasilitas pelayanan kesehatan, 172 rumah ibadah, 187 perkantoran, serta 89 fasilitas umum turut terdampak.
Kerusakan tersebut tersebar di delapan kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, Ngada, Nagekeo, dan Sumba Timur.
Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Besarnya dampak gempa membuat puluhan ribu warga meninggalkan rumah dan memilih mengungsi ke tempat yang dinilai lebih aman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan sekaligus menghindari risiko bangunan yang mengalami kerusakan.
“Untuk saat ini, masyarakat yang mengungsi mencapai 34.689 orang,” kata Richard.
Jumlah pengungsi tersebut menjadi salah satu perhatian utama pemerintah karena kebutuhan dasar warga, seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara, serta perlindungan kelompok rentan harus segera dipenuhi.
Penanganan dan Pendataan Masih Berlangsung
Pemerintah Provinsi NTT bersama BPBD, TNI-Polri, relawan, serta berbagai unsur terkait masih melakukan penanganan di wilayah terdampak. Upaya tersebut meliputi pendataan korban dan kerusakan, evakuasi warga, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penyaluran bantuan.
Pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat yang berada di lokasi pengungsian. Pendataan masih dimungkinkan berubah seiring proses verifikasi di lapangan dan masuknya laporan dari daerah-daerah terdampak.
Bencana tersebut meninggalkan dampak besar bagi masyarakat Flores dan sekitarnya. Selain kehilangan anggota keluarga, ribuan warga harus menghadapi kerusakan tempat tinggal dan fasilitas umum yang menjadi penopang aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut, koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan proses evakuasi, pemulihan, serta distribusi bantuan dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran.
Radar Berita Indonesia terus memantau perkembangan informasi terkait jumlah korban, kerusakan, pengungsian, serta langkah penanganan pemerintah terhadap warga terdampak gempa di NTT. (*)


