Padang, Radar Berita Indonesia – Khatib Salat Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, Ustaz Fungki Guspardi, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan antara anak dan orang tua di tengah dinamika kehidupan modern.
Pesan tersebut disampaikan saat pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Jamiak, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat (18/3/2026), yang dihadiri ribuan jamaah.
Dalam khutbahnya, Ustaz Fungki mengingatkan agar anak-anak tidak melupakan peran dan perasaan orang tua, khususnya di tengah kesibukan dan tuntutan hidup saat ini.
“Jangan siksa orang tuamu dengan kerinduan. Jaga salatmu anakku, dan jaga ibumu,” ujar Ustaz Fungki di hadapan jamaah.
Ia menyoroti fenomena yang kian sering terjadi, yakni berkurangnya komunikasi antara anak dan orang tua, terutama bagi mereka yang merantau untuk pendidikan maupun pekerjaan.
Menurutnya, kemudahan teknologi komunikasi saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk tetap menjaga hubungan dengan keluarga.
“Kesibukan bukan alasan untuk melupakan orang tua. Di era sekarang, komunikasi sangat mudah, tetapi kepedulian yang sering kali berkurang,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Idulfitri merupakan momentum penting untuk mempererat kembali silaturahmi keluarga. Pada momen tersebut, kerinduan orang tua terhadap anak biasanya semakin kuat, terlebih bagi ibu yang memiliki ikatan emosional mendalam.
Ustaz Fungki juga mengingatkan bahwa kurangnya perhatian dari anak dapat menimbulkan beban emosional bagi orang tua. Kerinduan yang tidak tersampaikan kerap dipendam, terutama oleh ibu yang menunggu kabar dari anaknya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga salat sebagai fondasi utama dalam membentuk akhlak seorang Muslim.
“Kalau salatnya terjaga, insyaAllah akhlaknya juga terjaga. Anak yang baik tidak akan melupakan orang tuanya,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan seorang anak tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu berbakti kepada orang tua. Bentuk perhatian sederhana seperti memberi kabar, menelepon, atau pulang menjenguk dinilai sangat berarti.
Dalam konteks budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi tradisi merantau, ia mengingatkan agar nilai-nilai kekeluargaan tetap dijaga. Merantau, kata dia, bukan berarti memutus hubungan, melainkan memperluas pengalaman dengan tetap berpegang pada akar budaya dan keluarga.
Ia juga mengimbau para orang tua untuk terus mendoakan anak-anak mereka agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam hidup.
Menutup khutbahnya, Ustaz Fungki mengajak jamaah menjadikan Idulfitri sebagai momentum introspeksi diri untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua serta meningkatkan kualitas ibadah.
“Kerinduan orang tua bukan untuk dibiarkan dalam diam, tetapi harus dijawab dengan perhatian, doa, dan kasih sayang yang tulus,” pungkasnya.
Suasana pelaksanaan Salat Idulfitri tersebut pun berlangsung khidmat dan penuh haru. Sejumlah jamaah terlihat meneteskan air mata saat mendengar pesan yang disampaikan.
Salah seorang jamaah yang enggan disebutkan namanya mengaku tersentuh dan teringat orang tuanya di kampung halaman.
“Saya langsung teringat ibu di rumah. Sudah lama tidak pulang dan jarang memberi kabar. Ceramah tadi benar-benar menyadarkan saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengakui bahwa kesibukan selama ini membuatnya lalai menjaga komunikasi dengan keluarga. Momentum Idulfitri kali ini, menurutnya, menjadi pengingat untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua.
Hal serupa juga dirasakan jamaah lainnya, terutama para perantau, yang menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Khutbah tersebut tidak hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menggugah kesadaran emosional jamaah tentang pentingnya kehadiran dan perhatian seorang anak bagi orang tua.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa pesan sederhana yang disampaikan dengan ketulusan mampu menyentuh hati dan membuka kesadaran banyak orang.
Penulis: Dedi Prima Maha Rajo Dirajo.


