Beranda INFO POLRI KAPOLRI Polri Ungkap 2 Kasus Penghimpunan Dana Ilegal yang Merugikan Masyarakat Rp 6,2...

Polri Ungkap 2 Kasus Penghimpunan Dana Ilegal yang Merugikan Masyarakat Rp 6,2 Triliun

Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si (Photo Humas Polri).
Radar BI, Jakarta | Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si memaparkan bahwa sepanjang tahun 2021 lalu, Korps Bhayangkara telah melakukan pengungkapan dua kasus tindak pidana penghimpunan dana tanpa izin atau ilegal yang merugikan masyarakat.

Kapolri mengungkapkan, kasus pertama yang diungkap adalah penipuan, penggelapan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan oleh PT. Hanson Internasional dan Koperasi Hanson Mitra Utama.

Menurut Kapolri, pada perkara tersebut, pihaknya menangkap tersangka BT bersama 9 orang yang melakukan penghimpunan dana dalam bentuk medium term note/short term borrowing/ringkasan perjanjian hutang dan simpanan berjangka tanpa izin dari OJK.

BACA JUGA  Polri Bentuk Satgas Mafia Tanah Tingkat Provinsi
BACA JUGA  Oknum Polisi Hamili Mahasiswi Cantik dan Paksa Pacarnya Aborsi di Mojokerto Jadi Tersangka dan Terancam Dipecat

“Kerugian nasabah dalam kasus ini sebesar Rp.6,2 triliun,” kata Sigit dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Jakarta, Kamis (27/01/2022).

Kemudian perkara kedua, lanjut Sigit adalah pengungkapan kasus dugaan penipuan, penggelapan dan TPPU yang dilakukan oleh PT. Asuransi Kresna Life dengan tersangka inisial KS. Adapun kerugian nasabah dalam kasus ini sebesar Rp.688 miliar.

Disisi lain, sepanjang tahun 2021 lalu, Polri juga telah melakukan penindakan tegas terhadap kasus pinjaman online (pinjol) ilegal. Setidaknya, ada 89 perkara yang diungkap dengan 65 tersangka, dimana empat diantaranya Warga Negara Asing (WNA).

BACA JUGA  Polri Ungkap Modus Pendanaan Teroris, Setiap Gaji Anggota Setor Lima Persen
BACA JUGA  Sepanjang Tahun 2021, Polri Berhasil Amankan Barang Bukti Narkoba Senilai Rp 88 Triliun

Adapun salah satu kasus pinjol yang menjadi perhatian publik adalah kasus PT. Asia Fintek Teknologi yang bertindak sebagai perusahaan penyelenggara transfer dana dalam kegiatan pinjol ilegal tersebut bermitra dengan beberapa koperasi simpan pinjam.

Terkait hal itu, Polri menetapkan 13 orang tersangka dengan rincian 7 orang tersangka merupakan desk collector. Lalu, empat orang yang terdiri dari dua WNA dan dua WNI merupakan direksi PT. Asia Fintek Teknologi.

Satu orang WNA sebagai pemilik KSP Inovasi Milik Bersama yang memiliki aplikasi jasa pinjaman online ilegal dan satu orang sebagai orang yang meregister sim card secara ilegal.

BACA JUGA  Warga Tertipu Oksigen Palsu, Kabareskrim Polri Minta Korban Melapor
BACA JUGA  Polri: Evakuasi Warga Prioritas Utama Penanganan Banjir di Jadetabek

“Penyidik telah melakukan pemblokiran dan penyitaan terhadap rekening milik PT. Asia Fintek Teknologi yang digunakan sebagai penampung dana dengan jumlah sekitar Rp239 miliar,” ujar Sigit.

Mantan Kapolda Banten tersebut memastikan, untuk tahun 2022 ini, Polri masih akan terus berkomitmen untuk mengungkap tindak pidana yang meresahkan serta merugikan masyarakat luas.

“Di tahun 2022, Polri tentunya akan terus berkomitmen melindungi masyarakat dari segala bentuk tindak pidana ataupun kejahatan yang membuat resah dan merugi,” tutup mantan Kabareskrim Polri itu.

Facebook Comments

Artikel sebelumyaPolri Tangkap 392 Teroris di 6 Provinsi, Jatim dan Sumut Terbanyak
Artikel berikutnyaSatgas BLBI, Polri Sita Aset Senilai Rp 5,9 Triliun