BerandaSEJARAHUstadz Abdul Somad: Embrio Pancasila Bermula dari Minangkabau, Bukan Kebetulan Sejarah

Ustadz Abdul Somad: Embrio Pancasila Bermula dari Minangkabau, Bukan Kebetulan Sejarah

Radar Berita Indonesia – Ustadz Abdul Somad (UAS) menegaskan bahwa nilai-nilai dasar Pancasila bukanlah konsep yang muncul tiba-tiba menjelang kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, embrio Pancasila sudah lama hidup dalam adat dan peradaban Minangkabau, jauh sebelum rumusan resmi dasar negara disahkan pada 18 Agustus 1945.

Pernyataan itu disampaikan Ustadz Abdul Somad dalam sebuah tausiyah yang disiarkan di salah satu stasiun televisi nasional dan beredar luas di media sosial. Dalam ceramah tersebut, UAS mengulas hubungan erat antara falsafah adat Minangkabau dengan sila-sila Pancasila, terutama pada aspek Ketuhanan, kemanusiaan, musyawarah, dan keadilan sosial.

“Embrio Pancasila itu sudah hidup di Minangkabau, dalam adat dan dalam surau-surau, sebelum ia menjadi rumusan resmi negara,” demikian kira-kira pandangan UAS yang ramai dikutip warganet.

Nilai Pancasila dalam Adat Minangkabau

Ustadz Abdul Somad menjelaskan, Minangkabau memiliki falsafah yang sangat kuat: adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah. Falsafah ini menegaskan bahwa adat bersumber kepada syariat Islam, dan syariat berlandaskan wahyu Allah dalam Al-Qur’an.

Menurut Ustadz Abdul Somad, dari falsafah inilah tampak benih sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang bukan sekadar pengakuan formal, tetapi dihayati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau.

Ketuhanan menjadi ruh yang mengatur adat, budaya, dan sistem sosial.

Tak hanya itu, konsep bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat yang populer dalam budaya Minang juga sejalan dengan sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Tradisi musyawarah, duduk bersama ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai menjadi mekanisme penyelesaian masalah yang sudah mengakar jauh sebelum lahirnya lembaga-lembaga negara modern.

Dari Surau, Nagari, ke Panggung Nasional

Dalam pandangan Ustadz Abdul Somad, surau dan nagari di Minangkabau berperan penting sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai kebangsaan.

Di surau, generasi muda ditempa dengan ilmu agama, adab, dan kemandirian. Di nagari, mereka belajar hidup bermasyarakat, bekerja sama, dan menghormati keputusan bersama.

“Di Minang, anak muda ditempa di surau, belajar mengaji, belajar adab, lalu turun ke lapau, ke sawah, ke pasar. Di situlah terbentuk karakter yang cinta ilmu, cinta musyawarah, dan anti kezaliman,” begitu kurang lebih spirit yang disampaikan UAS dalam ceramahnya.

UAS menilai, karakter inilah yang kemudian melahirkan banyak tokoh nasional asal Minangkabau yang berkontribusi besar terhadap lahirnya Indonesia modern dan Pancasila sebagai dasar negara.

Ia menyinggung bahwa gagasan-gagasan besar tentang persatuan, kemerdekaan, dan keadilan sosial tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari rahim peradaban lokal yang kuat, salah satunya Minangkabau.

Pancasila Bukan “Barang Impor”

Menjawab perdebatan yang kadang mempertanyakan apakah Pancasila sekadar menyalin ideologi asing, UAS menegaskan bahwa Pancasila justru berakar kuat pada nilai-nilai keindonesiaan.

Dengan mencontohkan Minangkabau, UAS ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila bisa dilacak pada tradisi dan adat yang hidup di tengah masyarakat.

Pancasila, kata UAS, bukan “barang impor” dari luar, tetapi kristalisasi dari kearifan lokal berbagai suku bangsa yang kemudian disatukan dalam satu rumusan.

Minangkabau hanya salah satu contoh nyata di mana nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sudah dipraktikkan jauh sebelum Indonesia lahir sebagai negara.

Menggugah Kesadaran Anak Bangsa

Pernyataan UAS tentang embrio Pancasila dari Minangkabau memantik diskusi hangat di ruang publik.

Banyak warganet yang merasa pandangan itu menggugah kesadaran bahwa Pancasila harus dipahami bukan hanya sebagai teks dalam pembukaan UUD 1945, melainkan sebagai nilai hidup yang telah lama mengalir dalam budaya Nusantara.

Di tengah arus globalisasi dan tantangan ideologi transnasional, UAS mengajak umat dan generasi muda untuk kembali menggali kearifan lokal yang sejalan dengan Pancasila.

Menghargai adat, merawat budaya, dan memperkuat pendidikan agama menjadi salah satu cara menjaga Indonesia tetap berpegang pada dasar negara.

Ustadz Abdul Somad mengingatkan, ketika masyarakat kembali memahami akar sejarah Pancasila, mereka tidak mudah diadu domba dengan narasi yang mempertentangkan agama dan Pancasila. Sebaliknya, mereka akan melihat keduanya sebagai kesatuan nilai yang saling menguatkan.

Harapan untuk Minangkabau dan Indonesia

Menutup pandangannya, Ustadz Abdul Somad berharap Minangkabau dan daerah lain di Indonesia terus menjaga tradisi-praktik sosial yang merefleksikan nilai Pancasila secara nyata, bukan sekadar slogan.

Mulai dari surau, nagari, sekolah, hingga ruang digital, nilai ketuhanan, persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial harus terus dikuatkan.

Dengan cara itu, Pancasila tidak hanya dihafal, tetapi dihidupkan. Dan Minangkabau, dengan sejarah panjang adat dan peradabannya, dapat terus menjadi contoh bagaimana embrio nilai dasar negara itu tumbuh subur, lalu berbuah menjadi identitas Indonesia yang kita kenal hari ini.

Google News

Must Read

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini