Radar Berita Indonesia – Kereta Cepat Whoosh digadang-gadang membawa Indonesia ke masa depan. Nyatanya, ia hanya membawa miliaran dolar utang dan gerbong yang setengah kosong.
Apa yang awalnya diumumkan sebagai proyek senilai US$ 6 miliar (Rp97,67 triliun) kini membengkak menjadi US$ 7,3 miliar (Rp118,83 triliun). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersandera lebih dari US$ 5 miliar (Rp81,39 triliun) pinjaman sebagian besar dari China Development Bank.
Dulu, pemerintah menjanjikan proyek ini bakal “balik modal.” Target penumpang dipatok 16 juta orang per tahun. Realitanya? Jangankan setengah, angka itu masih jauh panggang dari api.
Berdasarkan data KCIC, jumlah penumpang Whoosh hingga akhir Juni 2025 hanya 2,93 juta orang, naik tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya (2,66 juta orang). Sepanjang 2024, totalnya hanya 6,06 juta penumpang tidak sampai separuh dari target awal.
Artinya, kerugian sudah terhitung triliunan rupiah. Dan perlahan, tagihannya akan ditagihkan kepada rakyat pembayar pajak.
Inilah contoh malinvestment dalam bentuk paling murni. Modal tidak mengalir ke mana rakyat menghendaki, melainkan ke mana politisi ingin tampak megah. Kredit murah dari China dan jaminan negara membuat proyek ini seolah-olah menguntungkan.
Hayek tentu akan tertawa. Pasar tidak pernah meminta kereta cepat Jakarta-Bandung. Tapi para perencana tetap membangunnya. Kini sinyal harga berbicara lantang: angka merah, tahun demi tahun. Lebih parahnya lagi, Whoosh hanyalah babak pembuka.
Utang publik Indonesia diproyeksikan menembus 40% dari PDB pada 2025, naik dari sekitar 30% hanya setahun lalu. Pemerintah baru bahkan berencana menambah pinjaman Rp775 triliun untuk proyek mercusuar berikutnya.
Pembelaan mereka selalu sama: “Masih di bawah rata-rata global.” Itu bahasa pecandu yang sedang mencari alasan untuk dosis berikutnya. Utang tidak menciptakan kemakmuran. Utang hanya menciptakan ilusi.
Ia membangun kereta menuju entah ke mana, stasiun yang tidak pernah diminta rakyat, dan menyedot modal dari pengusaha yang seharusnya menciptakan nilai nyata. Alih-alih pasar, kita mendapat monumen. Alih-alih laba, kita mendapat subsidi.
Faktanya sederhana: Whoosh tidak akan balik modal bahkan dalam 40 tahun ke depan. Pada saat itu, keretanya mungkin sudah berkarat, relnya aus, dan putaran utang baru menanti. Ini bukan pembangunan. Ini teater utang.
Indonesia kini berada di persimpangan: terus berpura-pura bahwa utang adalah jalan menuju kesejahteraan, atau bangun dari mimpi. Karena pasar bukan birokrat, bukan Beijing, bukan perencana di Jakarta yang tahu di mana modal seharusnya ditempatkan.
Abaikan itu, dan Whoosh akan dikenang bukan sebagai simbol kemajuan, melainkan sebagai peringatan.


