Radar Berita Indonesia – Proyek irigasi di kawasan Kampung Tanjung, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, menjadi sorotan setelah sebuah video yang diunggah melalui platform media sosial Facebook oleh akun atas nama Riki Clay memperlihatkan kondisi pekerjaan yang dinilai perlu mendapat perhatian.
Dalam video tersebut, Riki Clay mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek irigasi yang disebutnya belum genap satu tahun selesai, namun telah mengalami kerusakan. Ia juga menyoroti kondisi fisik pekerjaan yang menurutnya tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Selain persoalan kondisi bangunan, Riki Clay turut mempertanyakan keberadaan papan informasi proyek irigasi di lokasi. Menurutnya, keterbukaan informasi terkait nama kegiatan, sumber anggaran, nilai pekerjaan, pelaksana, serta waktu pelaksanaan penting diketahui masyarakat sebagai bentuk transparansi penggunaan anggaran negara.
Ia juga meminta fungsi pengawasan terhadap proyek irigasi tersebut menjadi perhatian instansi terkait. Menurutnya, kondisi pekerjaan perlu diperiksa secara objektif untuk memastikan pelaksanaan proyek telah sesuai dengan spesifikasi teknis, kualitas material, ketentuan kontrak, serta standar pembangunan yang berlaku.
Ia juga mempertanyakan pihak yang bertanggung jawab apabila benar terdapat persoalan dalam pelaksanaan maupun kualitas pekerjaan.

“Inilah proyek abal-abal, kolekong peong bekerja sama dengan PU pengairan yang menghabiskan uang negara. Mana yang semen dan mana yang pasir tidak jelas, serta mutu tidak standar,” ujar Riki Clay dalam video yang diunggahnya.
Ia kemudian memperlihatkan kondisi pekerjaan irigasi yang menurutnya mengundang pertanyaan. Riki Clay menyebut pembangunan tersebut sudah berjalan sekitar satu minggu, namun material beton yang digunakan dinilai belum menunjukkan hasil pengerasan sebagaimana mestinya.
“Pembangunan irigasi sudah satu minggu tidak keras. Kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak sesuai dengan aspek pembangunan irigasi,” katanya.
Selain itu, Riki Clay juga menyoroti adanya material berupa kayu yang disebut berada di dalam bagian beton pekerjaan irigasi.
“Ada tumbuh kayu di dalam beton,” ujarnya.
Dalam unggahan tersebut, ia turut mempertanyakan besaran anggaran proyek yang diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta.
Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan yang disampaikan dalam video dan belum dapat dipastikan kebenarannya berdasarkan dokumen kontrak atau data resmi dari instansi pelaksana.

Sorotan lainnya berkaitan dengan papan informasi proyek. Riki Clay menyebut pekerjaan tersebut dilakukan tanpa terlihat adanya papan merek atau papan informasi proyek di lokasi.
Padahal, informasi mengenai nama kegiatan, sumber anggaran, nilai kontrak, pelaksana, waktu pelaksanaan, dan pengawas penting diketahui masyarakat sebagai bagian dari keterbukaan informasi publik.
Fungsi Pengawasan Dipertanyakan
Persoalan yang disampaikan dalam video tersebut pada akhirnya mengarah pada pentingnya fungsi pengawasan terhadap pekerjaan infrastruktur yang menggunakan anggaran negara.
Apabila benar terdapat pekerjaan yang tidak memenuhi spesifikasi teknis, penggunaan material yang tidak sesuai standar, atau pelaksanaan yang tidak mengikuti ketentuan kontrak, maka hal tersebut perlu diperiksa secara objektif oleh instansi berwenang.
Begitu pula dengan dugaan tidak adanya papan informasi proyek. Kondisi tersebut perlu diklarifikasi kepada pihak pelaksana maupun instansi yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut.

Namun demikian, berbagai pernyataan yang disampaikan dalam video tersebut masih merupakan klaim dari pengunggah dan belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang terbukti sebelum dilakukan pemeriksaan teknis serta klarifikasi kepada pihak-pihak terkait.
Untuk memastikan kualitas pekerjaan, diperlukan pemeriksaan lapangan oleh pihak berkompeten, termasuk pengecekan dokumen kontrak, spesifikasi teknis, kualitas material, metode pelaksanaan, volume pekerjaan, serta proses pengawasan proyek.
Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran
Pembangunan infrastruktur yang menggunakan uang negara harus dilaksanakan secara transparan, sesuai spesifikasi teknis, serta dapat dipertanggungjawabkan secara administratif maupun teknis.
Karena itu, munculnya keluhan masyarakat maupun sorotan melalui media sosial seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi instansi terkait. Klarifikasi secara terbuka penting dilakukan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dalam pelaksanaan proyek, pihak berwenang diharapkan mengambil langkah sesuai aturan. Sebaliknya, apabila pekerjaan tersebut telah dilaksanakan sesuai kontrak dan standar teknis, penjelasan resmi juga diperlukan untuk memberikan kepastian kepada publik.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai tudingan kualitas pekerjaan, nilai anggaran, papan informasi proyek, serta sistem pengawasan sebagaimana disampaikan dalam video tersebut.
Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak pelaksana, instansi terkait, maupun pihak lainnya yang berkepentingan untuk memberikan penjelasan secara resmi dan berimbang. (DP)


