Senin, April 15, 2024
No menu items!

Mengenal Saraf Kejepit, Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Must Read
Radar BI | Saraf kejepit adalah kondisi ketika saraf terhimpit oleh jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan nyeri yang dapat menghambat aktivitas. Saraf kejepit dapat pulih dengan membatasi aktivitas berat. Jika tak membaik hingga beberapa minggu, kondisi ini perlu mendapatkan penanganan.

Saraf kejepit dapat terjadi ketika saraf mendapatkan tekanan berlebih dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, tendon, dan otot. Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri, kesemutan, hingga mati rasa di bagian tubuh yang terdampak.

Saraf kejepit umumnya terjadi pada bagian penyangga tubuh, seperti leher, bahu, punggung tengah atas, dan punggung bawah, sehingga dapat menghambat aktivitas. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi di pergelangan tangan.

BACA JUGA  Polda Metro Jaya Bubarkan Kerumunan Wisata Kuliner di Food Street Pantai Indah Kapuk

Bila masih tergolong ringan, saraf kejepit bisa ditangani secara mandiri dan dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, jika kondisinya cukup parah, kondisi ini membutuhkan penanganan medis sesuai dengan penyebabnya.

Gejala Saraf Kejepit

Saraf kejepit bisa menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari yang ringan hingga berat. Berikut ini adalah beberapa gejala umum saraf kejepit:

  • Mati rasa atau berkurangnya sensitivitas pada area terjadinya saraf kejepit
  • Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk maupun seperti terbakar, yang menjalar menjauhi lokasi saraf kejepit
  • Kesemutan atau tubuh terasa seperti ditusuk-tusuk jarum
  • Kelemahan otot di area saraf terjepit
  • Tangan dan kaki terasa berat atau sulit digerakkan

Gejala saraf kejepit biasanya muncul secara perlahan dan akan memburuk seiring berjalannya waktu. Beberapa gejala dapat memburuk saat Anda sedang tidur. Tingkat keparahan gejala pun berbeda-beda, tergantung pada kondisi yang menyebabkan terjadinya saraf kejepit.

BACA JUGA  Amankan 2 Mucikari, Polda Kaltim Berhasil Ungkap Kasus Prostitusi Online di Bawah Umur

Penyebab Saraf Kejepit

Saraf kejepit terjadi karena jaringan di sekitarnya meradang kemudian menghimpit saraf. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya saraf kejepit adalah:

1. Postur tubuh yang buruk

Postur tubuh yang buruk, seperti sering menopang kepala dengan tangan atau kebiasaan menyilangkan kaki saat duduk dalam waktu lama, diketahui dapat memicu terjadinya saraf kejepit. Kebiasaan tersebut secara tidak Anda sadari dapat mencederai otot dan tulang belakang yang kemudian menghimpit saraf.

BACA JUGA  Rumah Dinas Kapolda Papua Terbakar

2. Cedera

Saraf kejepit bisa disebabkan oleh cedera yang cukup parah. Cedera tersebut dapat terjadi karena kecelakaan atau terjatuh.

Selain itu, mengetik dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan cedera di pergelangan tangan. Mengetik dapat memberikan tekanan pada pergelangan tangan secara terus-menerus. Kondisi ini dapat meningkatkan pembengkakan di sekitar saraf pergelangan tangan.

3. Obesitas

Obesitas disertai dengan penumpukan lemak di tubuh yang bisa menyebabkan masalah kesehatan, salah satunya saraf kejepit.

BACA JUGA  Korban Longsor di Lubuk Paraku, Warga: Irwan Basir Sosok Sederhana Berjiwa Dermawan

Obesitas dapat mengubah bentuk atau kelengkungan tulang belakang. Perubahan ini akan menambah beban pada bantalan tulang belakang dan saraf punggung, sehingga menyebabkan saraf kejepit.

4. Kehamilan

Pada beberapa kasus, wanita yang sedang hamil juga bisa mengalami saraf kejepit. Seiring pertumbuhan janin, berat badan wanita ikut bertambah. Kondisi ini bisa memberikan beban tambahan pada sendi dan otot.

Saraf kejepit saat hamil juga bisa dipicu oleh peningkatan produksi hormon relaksin. Peningkatan hormon ini menyebabkan penghubung ligamen menjadi lebih longgar. Ketika ligamen melonggar, salah satu saraf yang ada di tulang belakang pun bisa terjepit.

BACA JUGA  Pekan ke 3 Juni, Ditresnarkoba Polda Sumsel Ungkap 47 Kasus Narkoba dan Tangkap 53 Tersangka

5. Degeneratif (penuaan)

Penyebab saraf kejepit juga bisa terjadi karena proses penuaan. Seiring bertambahnya usia, bantalan tulang belakang mulai kehilangan kandungan airnya dan menjadi lebih kaku. Akibatnya, kelenturan di bantalan tulang belakang pun akan menurun. Saat kondisi ini terjadi, jarak antartulang belakang akan berkurang dan meningkatkan risiko terjadinya saraf terjepit.

6. Hernia diskus

Hernia diskus (hernia nukleus pulposus) adalah kondisi ketika bantalan tulang belakang robek atau bergeser, sehingga menghimpit saraf di dekatnya.

Kondisi ini bisa terjadi karena adanya penambahan beban pada tulang penyangga tubuh, termasuk leher dan tulang belakang. Beberapa aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya hernia diskus adalah mengangkat benda berat dengan posisi yang salah.

BACA JUGA  Gerak Cepat, Polres Bontang Berhasil Ringkus Seorang Pemuda Diduga Pelaku Pencurian di Tanjung Laut

Selain itu, pertambahan usia juga bisa menjadi faktor bantalan tulang belakang menjadi lebih rentan robek.

7. Stenosis spinal

Penyebab saraf kejepit lainnya adalah stenosis spinal, yaitu penyempitan di rongga tulang belakang yang berfungsi untuk melindungi saraf. Ketika rongga tulang menyempit, saraf yang berada di dalamnya akan tertekan dan menyebabkan saraf kejepit.

Penyempitan rongga tulang belakang bisa terjadi karena kondisi yang mengakibatkan perubahan pada tulang, misalnya hernia diskus, pertambahan usia, patah tulang akibat cedera, hingga tumor pada tulang belakang.

BACA JUGA  Ditres Narkoba Polda Sumsel Berhasil Ungkap 46 Kasus Narkoba

Penanganan Saraf Kejepit

Saraf kejepit yang tergolong ringan umumnya membaik dengan sendirinya dalam 2 hari. Untuk membantu meringankan keluhan, Anda dapat melakukan penanganan saraf kejepit di rumah.

Jika saraf kejepit sudah sangat parah hingga mengganggu aktivitas, bahkan membuat Anda sulit bergerak, perawatan medis pun dibutuhkan

Berikut ini adalah beberapa penanganan saraf kejepit:

Penanganan nonmedis

BACA JUGA  Polda Metro Jaya Bubarkan Kerumunan Wisata Kuliner di Food Street Pantai Indah Kapuk

Penanganan nonmedis untuk saraf kejepit dapat Anda lakukan sendiri di rumah, seperti:

Penanganan medis

Jika perawatan nonmedis tidak dapat menyembuhkan saraf kejepit, Anda dapat pergi ke dokter.

Dokter akan merekomendasikan beberapa penanganan berikut ini untuk menangani saraf kejepit:

  • Gunakan krim, gel, salep, maupun koyo antinyeri,
  • Konsumsi obat antinyeri dan antiradang yang dijual, misalnya ibuprofen dan naproxen.
  • Konsumsi obat dari dokter dengan tingkat efektivitas lebih tinggi, seperti seperti gabapentin dan amitriptyline, jika obat antinyeri tidak mampu mengatasi keluhan.
  • Suntik kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan nyeri di area saraf kejepit.
  • Gunakan penyangga atau korset untuk mempertahankan postur tubuh, sehingga mengurangi tekanan dan ketegangan otot.
  • Jalani fisioterapi untuk melatih dan memperkuat otot-otot sehingga mengurangi tekanan pada saraf, jika diperlukan.
  • Jalani terapi okupasi untuk membantu mengubah kebiasaan atau aktivitas yang dapat memperburuk saraf kejepit.
  • Jalani operasi sebagai pilihan terakhir bila terapi tidak berhasil mengurangi keluhan. Jenis operasi akan disesuaikan dengan lokasi saraf terjepit.

Selain penanganan-penanganan tersebut, akupuntur bisa menjadi terapi alternatif untuk mengatasi saraf kejepit. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas akupuntur dalam mengatasi saraf kejepit.

BACA JUGA  Korban Longsor di Lubuk Paraku, Warga: Irwan Basir Sosok Sederhana Berjiwa Dermawan

Oleh karena itu, lakukanlah akupuntur hanya jika telah disarankan oleh dokter.

Iklan

Latest News

Brimob Polri dan TNI AL Bentrok di Pelabuhan Sorong, 5 Personil Terluka

Radar Berita Indonesia | Bentrokan terjadi antara Brimob Polri dengan prajurit TNI Angkatan Laut (AL) di Pelabuhan Sorong, Papua...

Artikel Lain Yang Anda Suka