Beranda DAERAH Petani Penggarap Desa Batulawang Cianjur Keberatan Dengan Peraturan Konsultan PT MPM

Petani Penggarap Desa Batulawang Cianjur Keberatan Dengan Peraturan Konsultan PT MPM

Masyarakat merasa keberatan dengan peraturan baru oleh konsultan PT MPM tersebut.
Cianjur, Radar BI | Petani penggarap warga Kp Cikole yang merupakan bagian dari 1807 penggarap yang telah terdata dan telah mengumpulkan berkas kepada pemerintah.

Kegiatan pertemuan membahas langkah – langkah penggarap keberatan terhadap peraturan yang telah disosialisasikan oleh konsultan PT. MPM (Maskapai Perkebunan Moelia), pada hari Jum’at (17/6/2022).

BACA JUGA  Kapolda: Satu Hari Targetkan 25 Ribu Vaksinasi di Sumbar
BACA JUGA  Buka Rakernis Tahun 2022, Kapolri Tekankan Brimob Harus Jadi Teladan di Masyarakat dan Institusi

Musyawarah dengan tema keberatan terhadap peraturan-peraturan tentang sistem baru bercocok tanam budidaya kopi yang disosialisasikan oleh Mulyadi (Konsultan PT MPM) tersebut di hadiri oleh 18 orang warga prwakilan Kp. Cikole RT 01/02/03 RW 03 Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.

Nota keberatan terhadap peraturan konsultan tersebut merupakan hasil dari kegiatan pihak PT MPM yang telah dilaksanakan beberapa pekan lalu. Dimana pada saat itu Mulyadi mengundang petani penggarap budidaya kopi dan mempresentasikan teknik baru tumpang sari.

Nota keberatan terhadap peraturan konsultan tersebut merupakan hasil dari kegiatan pihak PT MPM yang telah dilaksanakan beberapa pekan lalu.
BACA JUGA  Penyaluran BLT Akabiluru Tahap IV di Kawal Babinsa Koramil 08
BACA JUGA  Terkait Kasus Binomo, Polri Sita Kotak Simpanan Deposit Milik Indra Kenz di Bank

Agar bisa tercipta keuntungan bersama pihak PT MPM dan petani penggarap. Sebab sistem tumpang sari yang dilakukan petani penggarap selama ini kurang maksimal.

Menurut Ade Maduk (berusia 40 tahun), salah satu peserta rapat saat diwawancara oleh Jurnalis Radar Bhayangkara Indonesia setelah musyawarah selesai, menyatakan bahwa pihaknya merasa keberatan dengan peraturan baru oleh konsultan PT MPM tersebut.

BACA JUGA  Ilmuwan Kelas Dunia Segudang Prestasi, Kapolri Apresiasi Anak Bangsa Berprestasi Muhammad Ja'far Hasibuan
BACA JUGA  Diduga Hasil Kejahatan Narkoba, Polda Sulteng Sita Aset Rp.10 Miliar

“Karena sistem yang baru belum tentu lebih baik, sementara selama ini kami sudah terbiasa dengan pola tanam yang sudah terasa manfaatnya”, ujar Ade.

Hal yang senada diungkapkan oleh Puloh (berusia 52 tahun), ia dengan penggarap yang lain merasa bahwa ini hanya permainan pihak PT MPM melalui konsultannnya.

“Kami merasa ini hanya permainan PT saja agar petani melakukan pola tanam yang baru yang justru akan mengakibatkan petani tidak diuntungkan”, kata Puloh.

BACA JUGA  Usut Dugaan Ujaran Kebencian oleh Bahar bin Smith, Polisi Periksa 34 Saksi
BACA JUGA  Bus Family Pastra Terjun ke Jurang, 2 Meninggal Dunia dan 3 Balita Selamat

Hasil kesepakatan ini ditandatangi oleh semua yang hadir dan akan disampaikan kepada PT MPM untuk dilakukan kajian ulang. Agar petani penggarap tidak dirugikan dan memperoleh keuntungan yang setara dengan perusahaan seperti yang dijanjikan PT MPM.

Sumber: Maman Surahman/Deri Setiawan.

Facebook Comments

Artikel sebelumyaPolisi Ringkus 3 Anggota Geng Motor yang Bacok Pemuda di Gambir
Artikel berikutnyaHBT Berduka Cita, Irwan Basir: Alm Lawwira Ajak Semua Panjatkan Doa Kebaikan