BerandaRadar Berita IndonesiaPEMERINTAHRupiah Mendekati Rp17.800 per Dolar AS, Bayang-Bayang Krisis 1998 Kembali Menghantui Publik

Rupiah Mendekati Rp17.800 per Dolar AS, Bayang-Bayang Krisis 1998 Kembali Menghantui Publik

Radar Berita Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat pada akhir Mei 2026. Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Kamis pagi, 28 Mei 2026.

Kondisi ini langsung memicu kecemasan publik dan membangkitkan kembali trauma krisis moneter 1998 yang pernah meluluhlantakkan perekonomian Indonesia.

Di media sosial, kekhawatiran masyarakat berkembang cepat. Banyak yang mulai mempertanyakan ketahanan ekonomi nasional di tengah melemahnya rupiah, turunnya pasar saham, hingga meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Isu mengenai ancaman PHK massal, lonjakan harga kebutuhan pokok, hingga potensi krisis ekonomi baru kembali menjadi perbincangan hangat.

Namun sejumlah ekonom menilai kondisi Indonesia saat ini masih sangat berbeda dibanding masa krisis Asia 1998.

Pelemahan rupiah yang terjadi sekarang disebut belum menunjukkan pola kehancuran sistemik seperti yang pernah terjadi hampir tiga dekade lalu.

Rupiah Melemah, Tapi Tidak Semua Pelemahan Berarti Krisis

Secara nominal, pelemahan rupiah memang terlihat mengkhawatirkan. Akan tetapi, para ekonom mengingatkan bahwa nilai tukar tidak bisa dilihat hanya dari angka semata.

Dalam teori ekonomi internasional dikenal konsep purchasing power parity (PPP), yakni pendekatan yang digunakan untuk mengukur kewajaran nilai tukar berdasarkan perbedaan inflasi antarnegara dalam jangka panjang.

Konsep tersebut menjelaskan bahwa apabila inflasi Indonesia selama puluhan tahun lebih tinggi dibanding Amerika Serikat, maka rupiah secara alami memang akan mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

Berdasarkan pendekatan PPP sejak awal 1990-an, nilai teoritis rupiah saat ini diperkirakan berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per dolar AS. Sementara kurs aktual rupiah sepanjang 2025 hingga Mei 2026 bergerak di rentang Rp16.500 sampai Rp17.800 per dolar AS.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa posisi rupiah saat ini masih relatif berada di jalur fundamental inflasi jangka panjang dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi krisis.

Berbeda dengan Krisis 1998

Situasi sekarang dinilai berbeda jauh dibanding krisis 1998. Pada masa itu, Indonesia menghadapi keruntuhan sektor perbankan, pelarian modal asing secara besar-besaran, serta gejolak politik nasional yang memicu hilangnya kepercayaan pasar.

Dalam teori moneter, kondisi tersebut dikenal sebagai overshooting, yakni situasi ketika nilai tukar jatuh jauh melampaui fundamental ekonomi akibat kepanikan massal.

Akibat krisis kepercayaan tersebut, rupiah kala itu anjlok sangat tajam dalam waktu singkat dan mengguncang seluruh sendi ekonomi nasional.

Sementara pada 2026, inflasi Indonesia masih relatif terkendali, sistem perbankan dinilai lebih kuat, dan cadangan devisa nasional masih berada dalam posisi cukup aman untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Karena itu, banyak pengamat menilai pelemahan rupiah saat ini belum dapat disamakan dengan krisis moneter 1998.

Persoalan Besar Ada pada Produktivitas Ekonomi

Meski belum masuk kategori krisis, tekanan terhadap rupiah dinilai membuka persoalan yang lebih dalam, yakni lambatnya transformasi ekonomi nasional.

Selama ini ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas mentah, konsumsi domestik, dan aliran modal asing. Sementara transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi berjalan relatif lambat dibanding negara pesaing di Asia Tenggara.

Thailand dan Vietnam menjadi contoh kontras dalam menghadapi dinamika ekonomi pascakrisis Asia.

Thailand berhasil menjaga stabilitas mata uang baht setelah krisis 1997, namun pertumbuhan ekonominya kemudian mengalami stagnasi dan terjebak dalam kondisi middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.

Sebaliknya, Vietnam justru mengalami pelemahan mata uang dong secara bertahap, tetapi berhasil membangun basis industri manufaktur ekspor yang agresif dan masuk ke rantai pasok global.

Vietnam juga memperoleh keuntungan besar dari relokasi industri dunia yang keluar dari Tiongkok.

Indonesia saat ini dinilai berada di tengah dua kondisi tersebut. Rupiah terus melemah perlahan dalam jangka panjang, tetapi transformasi industri nasional belum berkembang secepat Vietnam.

Kondisi itu membuat pelemahan rupiah disebut sebagai bentuk depresiasi struktural, yaitu pelemahan mata uang yang terjadi karena produktivitas nasional kalah cepat dibanding negara pesaing.

Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Tekanan terhadap rupiah meningkat tajam sepanjang Januari hingga Mei 2026. Data Bloomberg mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp17.858 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, 28 Mei 2026.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, ekonomi domestik masih berada dalam kondisi cukup kuat dan pemerintah terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan.

Pemerintah bersama sejumlah pihak disebut melakukan intervensi di pasar surat berharga negara (SBN) untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali dan mempertahankan kepercayaan investor.

Purbaya juga menyebut mulai terdapat aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Ekonom Ingatkan Risiko Ketergantungan Modal Asing

Meski demikian, pandangan berbeda disampaikan ekonom Yanuar Rizky. Ia menilai intervensi di pasar obligasi justru dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah apabila ketergantungan terhadap dana asing masih terlalu besar.

Menurut Yanuar, upaya menjaga yield obligasi di tengah tekanan global berpotensi memperbesar risiko pelemahan rupiah melalui mekanisme likuiditas pasar.

Ia juga mengingatkan agar pejabat publik berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kondisi pasar keuangan karena dapat mempengaruhi psikologi investor.

Tekanan terhadap rupiah saat ini terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, serta melemahnya minat investor terhadap aset berisiko.

Tidak hanya rupiah, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan berat sejak awal tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun tajam dari level 9.000 menuju kisaran 6.000.

Tantangan Sesungguhnya: Membangun Kepercayaan Jangka Panjang

Meski situasi ekonomi nasional belum berada di tepi jurang krisis seperti 1998, pasar mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap kemampuan Indonesia mempercepat produktivitas dan transformasi ekonominya.

Investor kini tidak lagi hanya memperhatikan inflasi, suku bunga, atau cadangan devisa. Pasar juga mulai mempertanyakan sejauh mana Indonesia mampu membangun industri yang kompetitif, meningkatkan produktivitas nasional, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.

Bayang-bayang krisis 1998 memang masih sangat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia. Namun pelemahan rupiah saat ini belum otomatis menjadi tanda kehancuran ekonomi nasional.

Tantangan terbesar Indonesia saat ini justru terletak pada bagaimana pemerintah mampu membangun kembali kepercayaan pasar melalui reformasi ekonomi, penguatan industri nasional, serta transformasi produktivitas yang nyata dan berkelanjutan. (Fuad/DP)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read