Beranda INFO POLRI Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Kupang, Pelaku dan Saksi Diperiksa Pakai...

Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Kupang, Pelaku dan Saksi Diperiksa Pakai Alat Tes Kebohongan

0
565
Penyidik Ditreskrimum Polda NTT melakukan deteksi kebohongan terhadap Randy Badjideh.
Radar BI | Penyidik Ditreskrimum Polda NTT melakukan deteksi kebohongan terhadap Randy Badjideh, tersangka pembunuhan ibu dan anak di Kota Kupang. Tes kebohongan dilakukan dengan alat pendeteksi, didatangkan langsung dari Laboratorium Forensik Mabes Polri.

“Sejak pada tanggal 7-10 Januari kasus pembunuhan telah dilakukan pemeriksaan forensik Lie Detector terhadap tersangka Randy,” jelas Kabid Humas Polda NTT, Kombes. Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto pada hari, Senin (10/1/2022).

Kombes. Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto menjelaskan, selain tersangka Randy, lima orang saksi juga dilakukan tes kebohongan.

BACA JUGA  Ditresnarkoba Polda Sumsel Musnahkan Barang Bukti Sabu 3,1 Kgs
BACA JUGA  PKS Tantang Rekam Jejak Kaesang Untuk Pimpin Depok

“Tiga orang saksi telah diperiksa, dua saksi lagi direncanakan akan dilakukan tes besok,” ujarnya.

Ditanya terkait nama-nama para saksi yang dilakukan tes kebohongan itu dan apakah jawaban mereka kurang meyakinkan serta pemeriksaan ini merupakan petunjuk dari JPU, mantan Kapolres TTU itu enggan merespon.

Sebelumnya, berkas kasus dengan korban Astri Evita Seprini Manafe (berusia 30 tahun) dan Lael Maccabee (1) telah diteliti jaksa peneliti Kejaksaan Tinggi NTT. Berkas tersebut dinilai belum lengkap dan dikembalikan ke penyidik untuk dilengkapi.

BACA JUGA  Peringati Hari Buruh, 14 Peserta Unjuk Rasa May Day di Medan Ditangkap Polisi
BACA JUGA  Lantik 17 PNS, Eka Putra Berpesan Saya Tunggu Inovasi, Kreatifitas Ataupun Terobosannya

Berkas yang ditahap satukan penyidik sejak, Selasa (28/12) dengan surat nomor: B/2321/XII/2021/Ditreskrimum di kembali pada Jumat (7/1) sekitar pukul 15:00 wita.

Ia menjelaskan bahwa petunjuk JPU berupa aspek formil dan aspek materil. Ditegaskan, penyidik Polda NTT akan segera memenuhi berkas perkara dengan tersangka Randy alias RB yang dikembalikan jaksa itu.

“Penyidik sudah menerima P19 dari JPU dan penyidik akan segera memenuhi petunjuk jaksa tersebut dan akan segera dikembalikan ke JPU.

BACA JUGA  Pemko Padang Diuji Konsistensi: Parkir Liar, Tata Kota, Pariwisata, hingga Lapangan Kerja
BACA JUGA  Sertijab, Marsekal Hadi ke Panglima TNI Baru: Jadikan Tugas Sebagai Ladang Ibadah kepada Tuhan YME

Menurut Krisna, terkait P-19 tersebut ada beberapa hal yang harus dipenuhi yakni aspek formil dan materil. “Setelah kita penuhi petunjuknya akan kita kirim kembali berkas perkara,” tutupnya.

Kasi Penkum Kejati NTT, Abdul Hakim ketika dihubungi wartawan, Kamis (6/1) mengatakan, persoalan kemanusiaan, khususnya yang terjadi di NTT akan mendapat hukuman yang maksimal.

Dia mencontohkan kasus Yustinus Tanaem alias Tinus dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak dibawa umur.

BACA JUGA  Penertiban Pedagang Muaro Lasak Jadi Tantangan, Zaitul: Tegas Boleh, Dialog Harus Diutamakan
BACA JUGA  Warga Aceh Utara Temukan Mayat Misterius Sudah Membusuk

Menurutnya, kejadian semacam ini memang tidak ditolerir oleh Kajati NTT, Yulianto. Hal ini juga berlaku pada kasus dengan tersangka Randi Badjideh yang juga menjadi perhatian dan atensi publik itu.

“Termasuk yang di Penkase Oeleta itu kan termaksud sadis juga toh. Atensi pimpinan itu,” ungkap Abdul Hakim.

Terhadap berkas perkara yang dilimpahkan dari penyidik Polda NTT sejak tanggal 28 Desember 2021 lalu, hingga kini masih diteliti pihak Kejati. “Masih diteliti, sabar. Kalau ada kekurangan berkas dikembalikan,” katanya.

BACA JUGA  Sertijab, Marsekal Hadi ke Panglima TNI Baru: Jadikan Tugas Sebagai Ladang Ibadah kepada Tuhan YME
BACA JUGA  4 Kandungan Nutrisi Buah Tin, Buah Yang Disebut Dari Surga

Abdul Hakim menyebut, batas akhir penelitian berkas ini dilakukan hingga Selasa pekan depan. Dia mengatakan, berkas jika telah memenuhi syarat akan disampaikan, begitu juga jika berkas belum lengkap, maka akan dikembalikan, dikutip dari merdeka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini